Cerita Mudik: Kampung Habis Dimakan Zaman

Setelah baca posting dari mas Wahyu Surya, gue jadi tertarik untuk share mengenai mudik.

Akhirnya Mudik Selesai Semua Tentang Membandingkan Pencapaian

Sebenernya ga spesifik mengenai mudik, tapi mengenai hubungan gue dengan kampung halaman.

Saat pertama kali meninggalkan kampung halaman, pasti ada mimpi-mimpi soal kembali ke kampung halaman dan membangunnya dengan ilmu dan modal yang didapat dari kota. Gue anggap realita ada di kampung halaman, sementara kota hanya untuk cari uang dan pengalaman. Gue pikir sementara gue fokus dulu di pekerjaan dan menyisihkan urusan kampung. Tapi lama kelamaan, gue sadar kalo kampung dan kota berjalan di satu timeline yang sama.

Lawang, kota indah sejuk nyaman

Tahun awal

Di tahun-tahun awal, ada rasa ingin selalu update soal kejadian-kejadian di kampung. Keluarga juga rajin kasih kabar berita-berita macem: “Mas ini meninggal dunia”, “Mbak ini sudah kawin”, “Ibu ini akhirnya bangkrut” atau “Bapak ini pindah”. Keluarga jadi semacam corong berita karena gue ga ada sosmed. Apalagi adek gue kerjanya banyak berhubungan dengan warga, jadi keluarga santer dapet berita-berita semacam di atas.

Ini contoh berita yang pernah gue terima: Ada saudara yang waktu kecil dulu, sering banget gue repotin (minta uang jajan, minta bikinin indomi sampe ngabisin kopinya), meninggal dunia. Sodara gue ini udah gue anggep sebagai nenek sendiri. Saat dapet informasi itu, gue sedang ribet-ribetnya kerjaan di kantor. Yang gue bisa lakuin cuma bales SMS dengan “innalillahi..” dan kirim do’a waktu sholat. Ada ketidakmampuan dalam diri gue yang bikin gue males untuk denger berita yang semacem ini. Gue pengennya bisa bantu banyak buat orang-orang yang pernah berjasa di hidup gue, tapi apa daya, gue jauh dan cuma bisa ngirim doa. Ketidakmampuan gue yang bikin gue malah ngehindar dari berita-berita itu. Gue milih pasang kacamata kuda dan fokus aja di kerjaan.

Tahun berikutnya

Kira-kira 1-2 tahun yang lalu, gue balik ke kampung halaman karena memang ada business trip di Surabaya. Saat di rumah, gue dikasih kabar mengenai keluarga gue juga yang kena kanker usus stadium akhir. Beliau ga dirawat di rumah sakit karena kekurangan biaya. I can’t think any end worse than this. Gue sempetin menjenguk dan beliau minta maaf ke gue (entah minta maaf karena apa) dan gue sempet ngasih sedekah dan doa semampunya. Ya, semampunya, lagi-lagi gue ngeliat ketidakmampuan gue. Beberapa bulan kemudian, beliau meninggal. Banyak cerita-cerita semacem ini yang gue denger ketika gue di kampung. Ada cerita soal anak yang tiba-tiba ditinggal ibunya kerja jadi TKI keluar negeri. Atau kenalan yang sekarang harus ngemis ngesot karena kakinya lumpuh akibat dipasung.

Entah keluarga sengaja menyaring sehingga hanya cerita-cerita sedih yang diterusin ke gue atau otak gue cuma inget cerita-cerita sedih doang. Intinya di tahun-tahun kebelakang, roda kehidupan berputar. Yang dulunya sehat, banyak yang sakit. Yang dulunya sakit, sekarang udah meninggal.

Gue rasanya ada di luar roda kehidupan itu. Gue selalu baru denger cerita-cerita itu setelah kejadian. Entah karena gue udah terlalu lama cuek, sehingga keluarga akhirnya maklum.

Tahun ini

Gue akhirnya pasrah. Let it go. Terlalu banyak kejadian di luar sana yang ga bisa gue kontrol. Ga ada gunanya juga kalo semua permasalahan hanya mandeg di pikiran. Gue pikir ini saatnya untuk mulai baru lagi. Otak hanya satu dan tangan cuma dua. Tahun ini gue akan mulai satu persatu untuk mengenal ulang kampung dan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Sebelum gue nyesel kampung habis dimakan zaman. Supaya mudik tahun depan lebih berkesan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s