Jadi Teroris Dengan Bantuan Google

Tadi siang, gue ke tukang taneman. Gue lagi cari tanaman yang spesifik yang gue mau. Gue tanya dong ke tukang taneman itu. Gue deskripsiin deh bagaimana bentuk tanemannya. Lalu tiba-tiba si ibunya bilang “Google aja deh“. Luar biasa.

Google tambah lama tambah dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia. Apalagi dengan ditambah murahnya harga gadget dan koneksi internet, orang belum apa-apa sudah tanya Google. Google sampai dikasih predikat “Mbah”, mungkin karena dianggap tahu segalanya. Teknologi yang ada di belakang Google sekarang memungkinkan kita untuk menuliskan apa yang kita mau dalam kalimat tanya loh, dan hampir semua pertanyaan bisa dijawab Mbah Google, mulai dari:

Dimana martabak terdekat?

Sampai ke “Bagaimana cuaca besok?”

Ga heran kalo Mbah Google semakin jadi pilihan pertama tempat orang bertanya. 

Pertanyaan berikutnya, dengan predikatnya yang “Mbah”, apakah Google juga wise? Gue bikin eksperimen nanya hal-hal nyeleneh ke Google.

Eksperimennya adalah seolah-olah gue punya rencana gabung ISIS, pengen bikin bom dan bunuh orang. Kemudian, yang terakhir, gue bunuh diri. Ekstrim -_-

Cara gabung ISIS

650.000 hasil pencarian

Si Mbah ngasih tau 650.000 cara buat gabung ISIS -_-.

Cara bikin bom

971.000 hasil pencarian

Gue yakin salah satunya adalah tutorial bikin bom beneran. Lalu gue coba lagi:

Cara bunuh orang

565.000 hasil pencarian

Setelah cara bunuh orang, yang terakhir adalah cara bunuh diri.

Cara bunuh diri

613.000 hasil pencarian

Kemudian saat gue akhirnya meninggal dunia dan mungkin terbukti khilaf (maksa sih, tapi namanya juga berandai-andai), apakah Google akan maafin gue? Contohnya akan gue pake dengan kekhilafan orang lain. 15 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2001, ada dua orang anak manusia yang khilaf merekam adegan ranjang dan kemudian rekaman itu tersebar. Masyarakat mugkin sudah banyak yang lupa. Tapi terima kasih Google, telah mengingat-ingat sampai ke muka pelakunya.


Jelas lah.. kan Google cuma mesin..
Ya, memang mesin. Tapi mesin yang merupakan produk dari perusahaan bernama Google Inc. Sebagai perusahaan, Google wajib bertanggungjawab secara etis ke konsumennya. Selain contoh case yang gue share di atas, ternyata ada empat aspek etis yang berhubungan dengan search engine, yaitu:

  • Search engine bias dan transparansinya
  • Privasi
  • Monitoring dan surveillance
  • Censorship dan demokrasi

    Semua aspek itu bisa lo baca di artikel ini.

    Poin gue adalah perlu ada effort lebih dari pemerintah, masyarakat atau dari perusahaan mesin pencari sendiri atas isu-isu yang gue sebutin di atas. Isu ini penting karena masyarakat Indonesia relatif masih baru dalam mengenal internet sehingga masih butuh kontrol. Sering kita dengar bahwa banyak teroris dan simpatisannya dengan gampang menggunakan internet untuk berkomunikasi. Jangan sampe lah, kemajuan teknologi malah jadi blunder. Perusahaan mesin pencari, yang merupakan gerbang dunia maya, dapat bekerjasama dengan pemerintah terutama dalam hal censorship.

    Teorinya sih gitu. Haha.

    Advertisements

    One thought on “Jadi Teroris Dengan Bantuan Google

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s