STOP TANYA GOOGLE Soal Penyakit Lo!

Sumber

Badan gue pernah panas tinggi dan kemudian ada bentol-bentol merah di seluruh badan. Karena gue dulu lagi ngekos dan anak perantauan, gue harus mandiri dong. Jadi gue pake Google untuk tahu sebenernya gue sakit apa sih.

Blam!

Dari yang gue baca di Google, gue sakit demam berdarah. Waktu itu udah malem dan gue gak kuat kalo harus naik motor ke klinik. Gue panik dan gue search lagi soal obat-obatan demam berdarah. Katanya kalo lagi demam berdarah, tubuh kekurangan cairan. Jadi gue beli pocari yang 2 literan. Gue abisin itu 2 liter pocari dalam beberapa jam.

Keesokan harinya, bentol-bentol ilang dan panas badan gue mulai turun. Ternyata gue gak demam berdarah. Waktu itu lagi musim ujan, jadi gue kena flu dan bentol-bentol karena alergi udara dingin. Kampret.

Google Bukan Dokter

Sumber

Setelah gue baca-baca, ternyata banyak juga yang jadi korban Google. Kesimpulannya adalah kebodohan kalo lo nanya google soal penyakit lo. Bukannya malah sembuh, lo malah kena Hypochondriasis.

Hypochondriasis adalah ketakutan berlebihan atas kesehatan diri sendiri. Sumber

Bukannya malah sembuh, lo malah dapet penyakit baru. Ya, itu yang gue rasain waktu berimajinasi kena “demam berdarah” di atas. Apalagi saat gue juga baca-baca mengenai akibat-akibat dari imajinasi gue itu.

Coba gue kasih eksperimen ya. Gue coba input keluhan “Sakit kepala dan badan panas”.

Sakit kepala dan badan panas = Tipes atau DB?

Saat lo input keluhan-keluhan lo di Google, Google akan menampilkan artikel-artikel yang menurutnya paling berhubunngan dengan keluhan lo itu. Ternyata algoritma Google ga pinter-pinter amat. Banyak hal yang menyebabkan suatu artikel ada di halaman pertama hasil pencarian Google, misal iklan dan SEO (search engine optimization). Jadi jangan berasumsi kalo informasi yang paling relevan itu ada di halaman pertama hasil pencarian Google.

Otak Ga Bisa Santai Kalo Soal Penyakit

Saat lo membaca mengenai kemungkinan penyakit-penyakit yang “serem” dari hasil pencarian Google, otak lo langsung mengaktifkan survival mode.

Masa iya sih gue tipes?

Masa iya sih gue demam berdarah?

Kemungkinan besar, lo melakukan diagnosa sendiri penyakit lo dengan membaca lebih lanjut mengenai penyebab-penyebab tipes dan demam berdarah. Lalu lo inget-inget deh apakah penyebab-penyebab tersebut cocok dengan yang lo alamin. Nah, ini problemnya.

Sumber

Sebenernya kinerja otak dalam menyimpan ingatan atau memori itu bukan kaya kita nyimpen file di harddisk. Kalo kita nyimpen file di harddisk, file tersebut sama seperti saat kita simpen terakhir kali (tidak berubah). Tapi kalo ingatan yang disimpen di otak, bisa berkembang tanpa sepengetahun kita. Ini disebut False Memory.

Saat lo coba buat nginget-nginget penyebab lo sakit kepala dan panas, ingatan lo akan membuat ingetan-ingetan baru agar seolah-olah match dengan informasi yang baru lo tau, yaitu penyebab-penyebab tipes dan demam berdarah.

Mulai muncul ingetan-ingetan palsu yang bikin lo tambah stress. Stress. Stress.

Selamat! Selain sakit kepala dan panas, penyakit lo nambah Hypochondriasis.

Makanya

Kalo sakit, minum obat warung dulu. Dan jangan lupain petuah lama:

Jika sakit berlanjut, hubungi dokter.

Haha.


Thank  you for reading! Ini tulisan kedua gue mengenai search engine dan permasalahan etikanya. Sebelumnya gue bahas mengenai censorship, sedangkan tulisan ini membahas tentang bagaimana algoritma Google bisa menyesatkan. Tulisan pertama bisa dibaca disini:

Jadi Teroris Dengan Bantuan Google

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s