Apa Bagusnya Suicide Squad?

Menurut info di IMDB, hari ini (3/8/2016) adalah premier Suicide Squad. Film yang sudah lama gue nanti ini akhirnya tayang juga di Indonesia. Gue akan membahas mengenai hal-hal yang bikin film ini ditunggu-tunggu.

Sumber

Anti-Heros

Tahun 2016 merupakan tahunnya Anti Hero. Beberapa bulan yang lalu, ada Deadpool, r-rated karena mulutnya yang ga dijaga, sedikit gore dan temanya yang absurd. Sebelumnya ada Ant Man. Dibalik topengnya, Scott Lang merupakan pencuri yang baru keluar dari penjara. Di tahun 2014, ada Guardians of The Galaxy, superheros-nya kumpulan misfits ruang angkasa dengan bentuk yang super absurd.

Sebenernya, momentum Anti Hero ini sudah dipersiapkan lama dari jauh-jauh hari. Pada awal kemunculan film-film superhero, superhero diciptakan one dimensional dalam artian saklek melawan kejahatan dan membela kebenaran. Kemudian, DC dengan franchise Batmannya menjadi pionir dengan premis superhero juga manusia, pun begitu juga dengan musuhnya.

Sumber

Tokoh penjahat yang sebelumnya cuma jahat, sekarang punya background sehingga penonton juga bisa merasionalisasi kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan. Salah satu efeknya, Joker si anarkis ini, sering jadi bahan meme untuk menyindir inkonsistensi masyarakat kita.

 

Sumber

Tokoh superhero, sekarang juga punya sisi gelap, Batman yang sebelumnya lebih mirip gay, berubah menjadi bapak-bapak control freak yang punya masa lalu kelam. Superman yang awalnya digambarkan sebagai makhluk sempurna, sekarang jadi makhluk galau bingung milih Lois Lane atau kehidupan superheronya.

Imej keren dan maskulin dari jauh hari sudah bergeser. Coba perhatikan imej James Bond yang bergeser jauh dari bapak playboy perlente jadi violence thug guy macem Daniel Craig. Media juga mengamini-nya. Salah satu bagian dari arti keren adalah bad boy. Film ini punya kumpulan bad boy jadi film ini super keren. Mungkin begitu.

Everyone Wants to See A Controlled Chaos

I wanted to see Superman die.

Saat Superman dikisahkan mati di akhir Batman V Superman, gue berdoa bahwa matinya mati beneran. Bukan mati ala sinetron yang ternyata salah kubur. Itu puncak dari rasa frustasi gue karena Superman yang digambarkan selama ini terlalu sempurna sehingga ga menarik sama sekali. Sepanjang film itu, apapun yang terjadi, gue gak pernah kuatir Superman akan berakhir naas. Eh, ternyata mati juga. Semoga tetap begitu.

Semua orang ingin menonton controlled chaos. Keributan, kegilaan, violence yang ga terlalu ekstrim sehingga masih bisa dinikmati. Hal itu juga yang menyebabkan film ekstra violence macem The Raid, Rumah Dara, atau film-film Quentin Tarantino, laku. Banyak orang yang ingin melihat orang lain ditembakin, dipukulin, ditendangin dari sofa bioskop sambil makan popcorn. Mungkin sambil sedikit meringis juga. Nowadays, people considered chaos as fun.

Last but not least

Dari dua premis yang gue jelasin di atas, ketemu alasan Suicide Squad ditunggu-tunggu. Alasannya adalah banyak orang berpikir:

Suicide Squad = Sekumpulan bajingan ngawur melakukan kekerasan, chaos dan keributan = Sekumpulan orang keren yang melakukan hal-hal fun.

Karya seni merupakan cerminan dari keadaan sosial masyarakat. Saat aksi sekelompok anti hero menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu, maka nilai sendiri bagaimana psikologi masyarakatnya. Atau tak usah ambil pusing, ambil popcorn dan nikmati saja filmnya. Selamat menonton!

Advertisements

3 thoughts on “Apa Bagusnya Suicide Squad?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s