5 Pelajaran Super Penting dari 5 Tahun Di Dunia Kerja

20160726_102635_5_bestshot

Bulan ini seharusnya genap 5 tahun gue di dunia kerja. Gue beres sidang skripsi di tahun Juli 2011, wisuda bulan Agustus dan mulai kerja Februari 2012  (baru ngeh, ada sekitar 6 bulan nganggur).

Gue ikut program training untuk jadi internal auditor selama 1 tahun di bank, kemudian di-assign ke retail banking audit selama 2,5 tahun. Sekarang masih di audit, cuma udah pindah unit jadi di consumer lending audit. Beberapa ceritanya udah gue tulis di post gue sebelumnya.

Proses adapatasi dari dunia kuliah ke dunia kerja bagi sebagian orang merupakan tantangan tersendiri. Sebagian orang udah disiapin dari waktu di kuliah dan sebagian lainnya harus belajar sendiri.  Post ini khusus buat pelajaran-pelajaran soal dunia kerja yang gue dapet dalam 5 tahun ke belakang.

People judge

the office ed helms andy bernard
Source

Yes. People judge.

Saat masuk ke dunia kerja, gue sadar kalo gue harus jadi lebih dari diri gue sendiri. Dunia kerja punya tantangan yang lain dari selama gue kuliah. Selama kuliah, gue termasuk orang yang cuek dan apa adanya. Nyatanya, itu ga cukup buat di dunia kerja.

None really cares about your personality. People will expect you to be an another adult office worker. Adulting.

Adulting (v): to do grown up things and hold responsibilities such as, a 9-5 job, a mortgage/rent, a car payment, or anything else that makes one think of grown ups.
Used in a sentence: Jane is adulting quite well today as she is on time for work promptly at 8am and appears well groomed.

Dari sisi positif, bekerja di kantor adalah menjual jasa/keahlian/skill lo ke sebuah perusahaan. Ada standar minimal dari perusahaan itu agar lo tetep bisa menjual jasa lo itu. Standar minimal itu lah yang bikin seseorang untuk mendewasakan dirinya. Selain itu, range umur di kantor itu sangat lebar. Gue sering satu tim dengan senior yang umurnya cuma beda 2 tahun dari umur orang tua gue 😀 Jadi harus jago membawa diri di tengah-tengah client dan senior.

 

You want something? Work for it!

Masa-masa kuliah dan sekolah, ada yang namanya instant gratification. Instant gratification ini dalam bentuk nilai yang keluar setelah lo ngerjain suatu tugas.

Di profesi gue, aturannya mainnya ga begitu.

Days are divided into projects. Selama setahun penuh, gue loncat dari satu proyek ke proyek yang lain tanpa gue tahu berapa “nilai” gue. Kondisi ini bikin terlena (jadi males) karena gue ga langsung tahu efek yang akan kita terima akibat dari cara kerja kita. I’m talking about reward and punishment here.

Jadi sekarang ada mantra yang selalu gue pegang soal pekerjaan sehari-hari. Mantra ini dari Rene Suhardono di bukunya “Your Job is Not Your Career” back in 2011 (I think) and this is the mantra:

the office gun guns michael scott
“You eat what you kill”. Source

Penjelasan singkat. Jaman dulu, manusia menghidupi dirinya dengan berburu. Hewan yang berhasil diburu itulah yang akan dibawa ke rumah. Nah, di dunia kerja, gue pake mindset ini. Pekerjaan, meskipun remeh temeh, gue kerjain dengan ngebayangin fisik/uang/whatever yang akan gue terima di kemudian hari sebagai timbal baliknya.

 

Work-life balance’s bullshit

Begini.

Pada awalnya, gue berpikir bahwa gue harus kerja di perusahaan yang mentingin work-life balance. Ini jadi salah satu alasan gue kerja di kantor gue yang sekarang.

Nyatanya, work-life balance’s bullshit. Media selalu menggambarkan work-life balance sebagai keseimbangan antara kantor, keluarga dan diri sendiri. Yeah right.

Dilbert got it right here.

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/f9/eb/63/f9eb6317cf4d5042b7c2547be0c65160.gif
Source

Untuk menyeimbangkan kantor, keluarga dan diri sendiri itu butuh willpower/kemauan/energi. Gue akan kasih contoh.

Lo kerja di perusahaan yang mementingkan work-life balance. Jadi ceritanya, lo bisa pulang jam 5 dan kegiatan selanjutnya lo bisa milih:

  • Angkat besi
  • Nulis buku
  • Ngurus anak
  • Ngumpul dengan teman
  • Leyeh-leyeh di rumah sambil nonton TV

Pasti lebih menarik yang makan energi sedikit kan? Padahal imej work life balance, setidaknya di mata gue, adalah gue bisa kerja, nulis buku, ngurus anak dan angkat besi dalam satu hari. Haha.

Ini pelajaran berharga buat gue. Work-life balance itu bukan dikasih kantor, tapi kita sendiri yang harus ngejar. Kecuali kerja lo lebih dari 10 jam sehari, lo masih bisa kejar work-life balance itu. Jangan harap lo bisa dapet work-life balance kalo lo ga punya energi/passion/willpower buat ngejar work life balance itu.

 

Work is a Marathon

Ada orang yang kerja  kaya lagi sprint. Kerja super keras tapi ga tahan lama, kemudian sakit. Ada yang kerjanya slow but sure. Gue termasuk yang terakhir.

Kerja bukan kaya belajar sistem kebut semalam. Balik di jaman kuliah/sekolah, sistem kebut semalam ini bisa dipake karena kita ujian maksimal hanya 3 bulan sekali. Di dunia kerja, pekerjaan ga ada habisnya. Kalo nurutin kerja tanpa perencanaan ya kita yang habis. Kebiasaan kerja sampe malem dan begadang dampaknya di kesehatan jangka panjang.

Ada joke di kalangan auditor, “Kalo belum tipes, belum jadi auditor”. Meh. My health is not a joke.

Jadi mindset gue sekarang adalah kerja itu marathon. Sebelum gue kerja/masuk di suatu proyek, biasanya gue akan bikin rencana pribadi. Rencana ini gue sesuaiin dengan kemampuan gue. Gue susun agar hidup gue tetep seimbang, ya paling ga gue ga harus tiap hari begadang untuk kejar setoran.

 

Perseverance beats talent. All the time.

Kegigihan mengalahkan bakat. Serius.

Di dunia kerja, seseorang dinilai dari kemampuannya. Lo akan ketemu dengan senior yang sudah bertahun-tahun di satu posisi saja dan lo juga akan ketemu fresh graduate yang cepet banget naik jabatannya. Lo akan ketemu orang yang lulusan dari universitas ternama dan lo juga akan ketemu orang yang dari universitas biasa-biasa aja.

In the long run, orang yang gigih yang akan menang. Serius.

Kepintaran/almamater/whatever cuma akan ngebawa lo sampe suatu titik dan kemudian hanya lo yang bisa ngebawa diri lo maju dari titik itu. Cara majunya ya dengan gigih kerja keras. Gue pernah cerita tentang kegigihan di post gue yang ini.

Ada prinsip simpel dari entrepreneurship yang bisa gue pake untuk ngejelasin efek dari kerja keras. Jadi, kalo seorang wirausahawan ga punya modal (uang) untuk mulai usahanya, biasanya gue bilang : “Sebenernya kalo lo ga punya duit, alternatifnya adalah lo jualan skill. Tapi kalo lo ga punya skill, lo jualan waktu lo.”

See?

Saat skill orang lain lebih jago dari kita, cara ngejarnya adalah dengan investasi waktu di pekerjaan. Cara investasi ini bisa dengan memanfaatkan waktu yang ada se-efektif mungkin atau dengan lembur. Waktu itu bisa dimanfaatkan dengan belajar materi yang ada hubungan dengan pekerjaan, self development, dan training.

the office jim halpert
Source

Thank you for reading! Hehe. Sebenernya masih banyak pelajaran-pelajaran lain yang gue dapet dari 5 tahun kerja di kantor. Gue akan post satu persatu karena sebenernya gue lebih seneng kalo ngebahasnya lebih mendalam. Anyway, please klik like/share if you like this post. Lo bisa subscribe dengan isi kolom di samping kanan!

Go read my other post!

Advertisements

6 thoughts on “5 Pelajaran Super Penting dari 5 Tahun Di Dunia Kerja

  1. teorinya banyak juga soal kerja dan karier. Tapi gw berpegangan satu hal yg paling penting aja. Do what you love or love what you do. Soalnya kerja butuh passion dan alhamdulilah kerjaan gw sesuai passion dari jaman SMP 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s