Yang Salah dari Suicide Squad

Adalah Joker. Dan semua orang di internet.

Beberapa hari lalu, gue pernah bahas mengenai film ini.  Di post itu, gue berkesimpulan bahwa:

Suicide Squad = Sekumpulan bajingan ngawur melakukan kekerasan, chaos dan keributan = Sekumpulan orang keren yang melakukan hal-hal fun.

Gue mau ngetes kesimpulan gue itu. Gue nonton Suicide Squad.

20160807_210211
Foto pamer yang harus ada.

Faktanya adalah gue penikmat film superhero.

Ceritanya dari gue masih kecil. Sama seperti kebanyakan bocah 90an, gue nonton Power Ranger di TV dan baca komik Dragon Ball. Premis superhero pada waktu itu: siksa superhero sampai mau mati, kemudian, saat sakaratul maut, cari cara agar superhero ini bisa survive dan fight back. Begitu terus. Contohnya Power Ranger; ceritanya pasti seperti ini:

  1. Kehidupan normal
  2. Ada monster
  3. Monster kuat, power ranger kalah
  4. Power ranger ngeluarin robot raksasa
  5. Robot raksasa menang
  6. Jika robot raksasa kalah, muncul robot raksasa baru yang lebih kuat

Film superhero akhir-akhir ini turun ke level rendah. Suicide Squad contohnya. Hype yang super lebay di internet ditambah film yang memang penuh gimmick marketing. Bleh.

Apa yang terjadi dengan film superhero ini? Coba kita review satu persatu.

Oh, Internet Marketing

Hype dua film terakhir DC; Batman V Superman dan Suicide Squad, dibangun jauh-jauh hari dengan internet marketing. Yap. Bocoran filmnya disebar lewat tweet, video viral, dan meme. Penonton dipaksa untuk nunggu setahun (bahkan lebih). Inget foto ini?

Foto itu di-share sejak April 2015. Damn. Lebih dari setahun yang lalu.

Dari foto itu aja, manusia-manusia di internet sudah heboh ngasih komentar, ngejek, ngebelain dan lain-lain sehingga hype film ini juga semakin naik. Yang salah dari foto itu adalah: Suicide Squad bukan film soal Joker dan Joker cuma numpang lewat di Suicide Squad. Meskipun begitu, sosok Joker terbukti sangat menjual untuk dijadikan bahan jualan dari film ini.

Lucunya, trailer pertama pake lagu “I started a Joke”, mengindikasikan Joker punya peranan penting di film ini, tapi ternyata gak.

Internet sudah menjadi channel utama untuk promosi sebuah film. Promosi via internet itu unik. Tidak seperti promosi konvensional, word of mouth via internet  bisa bermacam-macam bentuknya, mulai dari review, preview, prediksi, jokes, meme. Dan setiap materi yang udah masuk ke internet, akan beredar terus entah sampe kapan. Itu yang membuat hype dari film ini super lebay.

Interesting point: Seperti bubble, hype dari film ini berdasar pada prediksi-prediksi yang dikeluarkan oleh movie enthusiasts di internet. Kemudian, prediksi itu jadi ga terkendali bikin ekspektasi orang sudah kelewat tinggi. Saat filmnya muncul dan ga bisa memenuhi ekspektasi, banyak yang kecewa.

 

Bahas Filmnya [Ga Spoiler Kok]

Gue ga akan bahas detil ceritanya karena udah banyak yang bahas. Hehe.

Yang gue akan bahas disini adalah masalah teknisnya. Gue setahun lalu sempet lihat first trailer-nya Suicide Squad yang ini:

Setelah gue nonton filmnya, adegan dari trailernya seperti ditambal sulam ke dalam filmnya, padahal adegan itu kurang relevan. Joke-joke yang ada pun terkesan nanggung dan ga lepas. Susunan plotnya memang memungkinkan untuk tambal sulam, tapi ya ga gitu juga kali. Haha. In the end, yang paling bagus dari film ini adalah trailer-nya.

Problem dari film yang merupakan bagian dari story line yang lebih besar adalah jalan cerita film itu pasti setengah-setengah ga jelas. Seakan orang akan nonton film selanjutnya, beberapa scene seakan melompat entah maju ke masa depan atau ke masa lalu. Ada juga scene yang totally absurd, dibuat biar jadi bumbu aja, semisal adegan Joker ketawa dikelilingi pisau dan senjata.

Setengah dari film ini habis buat ngejelasin background 8 orang anggota Suicide Squad dan seorang Joker. Dan rasanya masih kurang. Selain Harley Quinn, Deadshot dan Rick Flag, karakter lainnya terasa one dimensional. Tukang tali baru muncul udah mat. El Diablo mirip drop out-an dari sekolah X-men. Killer Croc dibikin mirip Groot, but somehow, gagal. Joker didn’t live up to the expectation.

Ya elah..

Satu hal lagi yang bikin gregetan soal film ini adalah soundtrack-nya. Bisa dibilang soundtrack film ini semata-mata adalah fan service, terutama internet fans service. Soundtracknya banyak pakai lagu-lagu classic rock, Bohemian Rhapsody, lagu dari ACDC, I started a Joke-nya Beegees. Lagu jadul terbukti bikin suatu film memorable dan dibahas-bahas, contohnya lagu ACDC dan Black Sabbath di Ironman, lagunya the Runaways di Guardian of the Galaxy.

Another interesting point: Film ini seperti ramuan sisa-sisa dari bahan internet marketing yang super smart. Semua komponen dari internet marketing yang dikeluarin jauh-jauh hari, diramu dan disuguhin ke penonton. Jadi ya, tebak sendiri gimana rasanya.


Pada akhirnya

Bagi kalian yang mau nonton, jangan ketinggian ekspektasinya. Film ini ga bisa dibandingkan dengan Dark Knight Trilogy ataupun sesama film kumpulan anti hero lain. Film ini ngebalikin kualitas film Batman dan Cs kembali ke jaman Batman & Robin vs Mr Freeze. Separah itu.

Ibarat makan snack, isinya ga sesuai dengan bungkus. Maka dari itu, gue kasih nilai 5/10.

The joke is on us. Makasih.

Advertisements

3 thoughts on “Yang Salah dari Suicide Squad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s