Polemik Prematur Full Day School

school, old, board
Source

Hari ini internet heboh dengan pernyataan Mendikbud yang baru, Muhadjir Effendy, mengenai mau diterapkannya “Full Day School”, yang kemudian diralat menjadi kegiatan co-kurikuler, di SD dan SMP. Mendikbud beranggapan bahwa ide ini sejalan dengan Nawacita, mengenai perlunya pendidikan karakter dan harus ditekankan terutama pada level dasar. (Sindonews.com)

Apa sih sebenernya maksud dari Full Day School?

Program sekolah yang berakhir sampai sore hari. Kegiatan belajar mengajar di kelas dilakukan pada pagi – siang hari, kemudian siang hari – sore hari diisi dengan kegiatan co -kurikuler. Kegiatan co-kurikuler ini, kalo gue baca, adalah kegiatan yang merupakan pendalaman dari kegiatan belajar formal. Sedangkan kalo ekstrakurikuler adalah kegiatan sekolah yang bisa tidak berhubungan sama sekali dengan pelajaran, misal pramuka, PMR, dan olahraga.

Contoh dari kegiatan co-kurikuler ternyata sebagai berikut:

  • Math Lab: Anak-anak belajar matematika dari gambar, games, proyek dan kunjungan lapangan
  • English Lab: Pengembangan bahasa dan keahlian komunikasi melalui games, puzzle dan lain-lain
  • Latihan Presentasi Bertema: Presentasi yang dilakukan oleh siswa sesuai dengan tema yang diberikan
  • Thematic Concerts: Ajang berkreasi agar siswa aware terhadap isu sejarah dan sosial
  • Mading: Melatih siswa untuk beropini
  • Contoh di atas gue translate dari list aktivitas co-kurikuler di kaveri.edu.in

Disclaimer: Gue baru tau juga kalo ada yang namanya kegiatan co-kurikuler -__-

Girl in Green Shirt Holding a Ball Near Woman in Black Shirt
Source

Ide ini bagus. Berdasarkan berita yang gue baca, Mendikbud berpendapat bahwa Full Day School dapat melindungi siswa dari kegiatan yang negatif plus bisa mengisi waktu siswa dengan kegiatan yang produktif nan positif.

Bagian yang kontra berpendapat bahwa negara maju justru tengah mengembangkan less school time, no home work dan more about character building. Sehingga kalo Indonesia menerapkan Full Day School, maka dunia pendidikan akan mengalami kemunduran. Ada juga yang beranggapan bahwa Full Day School justru akan melepas tanggung jawab orang tua terhadap anak dengan menyerahkannya ke sekolah. Selain itu, juga akan merenggut interaksi antara anak dengan orang tua sehingga berbahaya (Pikiran Rakyat).

Bukan Barang Baru

Ide berkegiatan setelah sekolah sebenernya bukan barang baru. Kegiatan-kegiatan after school dari jaman dulu banyak, apalagi di desa-desa. Gue dulu rutin tiap hari ngaji setelah sekolah, mulai dari sebelum TK  sampai SMA. Setelah itu tiap hari Selasa malam, gue rutin juga ikut Diba’an (Shalawat dan main rebana). Kamis malam, gue ngewakilin bokap ikut tahlilan rutin di kampung. Bedanya adalah Full Day School akan membuat kegiatan-kegiatan gue diatas menjadi formal dan dilakukan di sekolah. Jadi mengapa harus heboh?

Selain itu, lingkungan sekolah juga bisa menjaga anak dari pengaruh negatif lingkungan. Biasanya lembaga pendidikan informal tidak seketat sekolah dalam melakukan seleksi peserta didiknya, jadi jangan heran kalo pengaruh lembaga pendidikan informal ke anak lebih unpredictable. Di lihat dari sisi positif, membatasi ruang interaksi anak dapat dinilai sebagai bagian dari perlindungan yang orang tua berikan.

Sampai titik ini, gue mulai bingung. Gagasan positif seperti ini kenapa banyak yang reaktif? Padahal udah jelas loh kalo ini masih merupakan ide dan baru akan dikaji. Media-media internet emang paling pinter kalo soal goreng-menggoreng isu.


Makasih man-teman sekalian udah baca tulisan singkat ini. Gue mau tau gimana opini kalian dengan ide ini. Please share di kolom komen. Kalo tulisan ini bermanfaat, please klik share/like 🙂 Peace out!

Advertisements

One thought on “Polemik Prematur Full Day School

  1. Sejak SD aku sekolah full-day school, sampe jam 4 sore. Jujur aja, awalnya ortu masukin ke full-day school biar ga bingung aku harus dikemanain pas mereka blm pulang kerja. Dan karena sekolahku (alhamdulillah) nyenengin, full-day school lebih banyak positifnya ke aku. Pergaulan lebih terkontrol, dan lebih banyak eksplor alam karena jam siang biasanya pelajaran tp ga di kelas. Bisa di sawah, di lapangan, keliling kampung (dulu kan blm sepadet sekarang).

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s