Bapak dan Penyakit Anehnya

“Sorry, tapi kemungkinan besar kamu nanti juga bisa kena penyakit seperti orang tua kamu”, kata Dokter.

“Oh gapapa, Dok”, jawab gue. Seperti biasa, gue ga ngeh implikasi dari jawaban gue ini.

“Gimana sekarang kondisi Bapak?”, tanya Dokter.

Gue diem. Bingung gue jawabnya.

“Udah nyerah ya?”, tanya Dokter sekali lagi.

“Iya, Dok.”

Semua kembali ke suatu kejadian yang gue inget samar-samar, waktu itu gue masih 3-4 tahun. Sekitar tahun 1993-1994, Bapak pulang dari kantor dan mengeluh ada yang aneh di kepalanya. Kulitnya mengelupas seperti berketombe. Tapi ketombenya lebih parah. Bapak bilang kalo dia abis makan di warung dan mungkin keracunan makanan. Setelah pergi ke Puskesmas, Bapak malah diberi shampoo. Entah shampoo warung atau obat berbentuk shampoo.

Tapi ternyata kulit yang mengelupas itu menyebar kemana-mana.

Di tangan. Punggung. Dada. Perut. Betis. Paha.

Luas areanya mulai dari sebesar koin sampe setengah lengan. Kalo lagi parah, kulitnya jadi tipis dan merah. Kalo lagi kering, kulitnya jadi keras bersisik. Gue setiap pagi sering nyapu rumah dan itu kulit sebesar remah Happy Tos ada dimana-mana. Ibu sering bercanda kalo kulitnya dibikin kerupuk aja.

Obat

Melihat kondisi Bapak yang seperti itu, banyak orang yang rekomen obat dan orang-orang “pinter”. Jaman itu masih jaman pra-internet dan keluarga gue tinggal di kota kecil, jadi informasi masih sangat kurang.

Suatu hari, gue liat banyak kadal mati yang dijemur di depan rumah. Gue, yang paling ga suka reptil, tanya ke Ibu, “Itu kadal buat apa?”.

“Buat obat penyakitnya Bapak”, jawab Ibu. Atau intinya seperti itu. Itu kadal setelah kering kemudian digoreng dan dimakan pake kecap. Katanya sih mujarab, tapi ga mempan ke Bapak gue.

Di lain hari, Bapak marah-marah dan ngusir tukang refleksi yang tetep nerusin mijet kakinya padahal udah dibilang sakit. Waktu itu ada yang bilang refleksi bisa nyembuhin penyakit itu.

Pernah juga ada orang pinter yang ngeluarin paku dari perut dengan cara digigit, luka dan bekasnya sampe sekarang masih ada. Pernah pula pergi ke salah satu ustad “Pemburu Hantu” yang akhirnya Bapak bilang “Penipu tuh!”. Pernah nyoba mindahin penyakit ke kambing. Pernah makan akar-akaran. Rutin berendem air belerang. Tusuk jarum. Semua dicoba.

Waktu gue kelas 5 SD, sempat Bapak berobat ke dokter saat ikut pendidikan di Bandung. Samar di ingatan gue, tapi, somehow, Bapak di-opname di rumah sakit karena katanya overdosis dan kecanduan obat dokter. Berat badannya naik parah, giginya abis. Ibu sampe harus nyusul ke Bandung dan gue ditinggal sebulanan. Pernah pula, Bapak bilang kalo udara di Jakarta lebih “ramah” ke kulitnya jadi Bapak sempet pindah kerja ke Jakarta untuk beberapa tahun.

Setelah 10 tahunan bergelut dengan penyakit itu, ada sodara yang inform kalo ternyata penyakitnya punya nama.

Psoriasis.

Belum ada obatnya.

Psoriasis adalah salah satu kelainan kulit yang sulit dimengerti dan susah dihilangkan (persisten). Karateristiknya adalah sel kulit dapat beregenerasi 10 kali lipat lebih cepat dari normal. Saat sel yang dibagian bawah mencapai permukaan kulit dan mati, sel-sel tersebut menyebabkan plak merah yang ditutupi oleh sisik putih. Apa penyebab penyakit ini? Gen dan adanya pemicu. 10 dari 100 orang mempunyai gen yang rentan psoriasis, tapi hanya 2 atau 3 yang akhirnya terpicu penyakitnya. (WebMD)

https://i0.wp.com/img.webmd.com/dtmcms/live/webmd/consumer_assets/site_images/articles/health_tools/psoriasis_types_slideshow/getty_rm_photo_of_illustration_of_psoriasis.jpg
Source
https://i0.wp.com/img.webmd.com/dtmcms/live/webmd/consumer_assets/site_images/articles/health_and_medical_reference/skin_and_beauty/understanding_psoriasis_basics.jpg
Source

 

Mental

Yang paling parah dari psoriasis adalah efek ke mental penderitanya. Sebagai anggota keluarga, gue ngerasain banget. Dari cerita sodara-sodara, Bapak orangnya ramah, pandai bergaul dan berprestasi. Tapi yang gue liat selama ini mungkin sisa keramahannya setelah dihajar psoriasis.

Bayangin hidup di masyarakat yang belum terinformasi dengan kulit yang ngelupas di tangan, kaki, muka dan kepala lo. Kemanapun lo pergi, pasti ada yang bikin lo selalu self-concious dan ga nyaman. Entah pandangan orang ke diri lo, atau pertanyaan yang ga ada abisnya seperti “Itu kulitnya kenapa, Pak?”. Bisa ngebayangin reaksi orang-orang yang langsung keluar dari kolam saat lo masuk buat berobat di kolam belerang, even itu udah tengah malem. Bapak gue seperti menarik diri dari kehidupan sosial karena kondisi kulitnya.

Dari segi karir, Komandannya Bapak bilang mending Bapak istirahat aja di rumah. Dan Bapak bener-bener istirahat di rumah, selama 6-7 tahun. Karirnya udah ga tau deh kaya gimana. Alhamdulillah masih tetep dapet gaji jadi gue bisa nerusin sekolah dan kuliah.

Semakin bertambah umur, gue semakin bisa ngertiin keadaan Bapak saat itu. Laki-laki di umur 30 tahunan bisa dikatakan lagi masa emasnya. You know, keluarga masih muda semua dan karir masih panjang. Orang bilang gara-gara penyakitnya Bapak beda dengan yang dulu. Bapak yang sekarang lebih tempramental dan keras kepala. Baik ke keluarganya, apalagi ke orang lain. Stress, insecurity or even depression. I’m not going to get deeper into that, since it’s better to just let it go.

Sakitnya Bapak berpengaruh besar ke keluarga. Bapak seperti bikin penghalang besar di sekelilingnya, sehingga komunikasi kami ke dia sangat-sangat terbatas. Gue belum pernah ngebahas sesuatu yang mendalam sama bapak gue karena Bapak gampang tersulut  gara-gara hal remeh temeh. Praktis hampir ga ada diskusi-diskusi di keluarga seperti di teori-teori normatif. Hal ini berdampak ke skill sosial gue. Selain gue jadi super cuek, banyak hal yang mesti gue pelajari sendiri. Hal-hal yang seharusnya gue pelajari di lingkup keluarga. Dari segi ekonomi, keluarga stuck. Ga kerja artinya ga ngejar karir dan pastinya gaji naik seadanya. Untung ada bantuan dari sodara-sodara dan Ibu juga buka toko di pasar.

Sekarang, Bapak udah ga terlalu mikir lagi dengan penyakitnya. Literally, muka badak aja (LOL, gue bahkan sering jadiin penyakitnya jadi bahan candaan). Kalo terlalu mikir malah stress dan akhirnya jadi memperburuk kondisi kulitnya.

 

Beberapa bulan lalu, gue lagi nyoba cukur rambut dengan model ala ala James Dean.

jamesdean
Foto James Dean yang gue bawa ke tukang cukur.

 

Setelah cukur, kok ternyata di bagian sisi kiri dan kanan kepala banyak ketombenya. Ketombenya ini sampe di bagian jambang dan alis. Gue pikir karena gue mandinya ga bersih dan kurang frekuensi cuci rambut. Gue cuekin karena kemudian ketutup rambut. Sampe suatu hari, gue notice kalo ternyata ketombenya udah keluar dari zona rambut. Damn. Gue bisa liat kulit gue ngelupas-lupas di area samping mata. Hari itu juga gue pergi ke dokter. Dokter bilang keadaan gue ini karena jamur dan dikasi salep. Kondisi gue mendingan setelah gue rutin pake salep itu sampe habis.

Gue pikir udah abis sampe itu aja. Tapi ternyata ketombenya muncul lagi. Hari itu juga gue pergi ke dokter spesialis kulit. Dokter bilang gue kena seborrheic dermatitis ringan.

“Do not pray for an easy life, pray for the strength to endure a difficult one” – Bruce Lee

Terlepas dari penyakitnya, kesehatan bukan perkara diri sendiri. Kesehatan juga menyangkut orang-orang yang lo sayangin di sekitar lo. Ketika lo sakit, keluarga lo juga ikut sakit. Pendidikan anak lo ga maksimal, ekonomi keluarga lo terganggu, hubungan lo dengan orang lain juga berubah. Gue udah liat beberapa keluarga yang lebih menderita dari keluarga gue akibat ada salah satu keluarganya yang sakit parah. Entah itu diabetes, gagal ginjal atau kanker.

Jangan egois, mulailah jaga harta lo yang paling berharga; Kesehatan.

 


Thanks for reading this piece. This writing is previously posted on Kaskus as Lomba Membuat Thread entry. Gue tertarik sekalian buat ngedokumentasiin pikiran gue soal keluarga gue. Alhamdulillah rasanya lega abis nulis. Hehe.

Advertisements

5 thoughts on “Bapak dan Penyakit Anehnya

    1. Wah, padahal masih sekolah yab. Sayangnya belum ada obat untuk nyembuhinnya. Bawaan gen itu mbak. Jadi hanya bisa dikurangi aja efeknya dengan minum obat pereda, jaga makan dan ga stress. Di WebMD ada informasi obatnya.

      Kalo Bapak saya masih sakit, tapi udah cuek 😀

      Liked by 1 person

  1. I really admire how you are handling this skin-anomaly. May good health envelop you and your dad. A well-written thread. This kind of content’s always interesting to read. It reduces both of stress and burdens. Thanks for sharing!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s