Bahagia Dengan Kamera

Kemarin (19/8) ternyata #WorldPhotoDay! Haha.

Dari dulu, gue bukan orang yang suka foto-foto. Gue hanya liat foto dari nilai histori-nya. Gue pikir “Ya, mungkin beberapa saat lagi gue akan kembali ke situasi/tempat yang sama. Jadi ngapain banyak-banyak foto”. Jadi gue bawa kamera/ambil foto hanya di saat-saat yang menurut gue spesial aja.

Mungkin ini ada hubungannya dengan efek social media terhadap perkembangan foto. Dari clickz.com, gue tau kalo pengguna Instagram di Indonesia paling sering ngepost foto traveling, foto makanan, tempat keren atau kafe/restoran keren.

eMarketer_Leading Instagram activities 16-35_Indonesia_204304
Source

Mindset-nya: Ambil foto di saat-saat yang spesial/one in a lifetime aja.

Tapi emang gitu sih. Bahkan sebelum jaman social media. Dulu foto repot dan mahal. Jadi foto digunakan khusus untuk moment-moment spesial aja. Dari segi artistik, foto untuk keperluan pribadi juga dari dulu ga jauh berubah. Pose. Tahan. Click!

Gue juga begitu, sampai gue ketemu bapak-bapak di kantor yang suka foto.

Dari awal kenal, bapak itu emang suka foto. Setiap ada acara, dia ga lupa bawa kameranya. Kalo keluar kota, ranselnya udah kaya ransel tentara karena saking beratnya. Cari fotonya pun ga kenal waktu. Gue pernah diajak hunting foto jam 11 malem setelah rapat. Setelah gue perhatiin, akibat suka foto, bapak ini adalah salah satu orang yang present, artinya pikirannya fokus pada saat sekarang.

Hal itu gue sadari saat gue merhatiin yang dia lakukan setiap kali ada kesempatan ngumpul bareng. Dia sering tiba-tiba ngambil gambar objek-objek yang menurut gue (dulu) aneh, semisal bunga, rumput dan lain-lain. Saat gue dan mungkin orang lain distracted dengan pikiran gue sendiri, masa lalu atau masa depan, dan kehidupan lain yang jauh, y’know internet, pikiran Bapak itu masih fokus pada saat sekarang.

Gue percaya kalo pikiran bisa diibaratkan dengan taman. Taman yang indah adalah taman yang tertata rapi dan bersih. Kalo taman itu ga dirawat dan dijaga, muncul ilalang, hama, daun-daun kering dan lain sebagainya. Sama halnya dengan pikiran kita, kalo kita ga merawat dan menjaga pikiran kita, muncul hal-hal yang akan membuat kita stress sendiri. Entah kesalahan-kesalahan kita di masa lalu, atau kekhawatiran masa datang. Salah satu cara untuk menjaga pikiran kita adalah dengan fokus di masa sekarang. Be present. 

 

Maka dari itu, gue sekarang sering ngambil foto.

And that’s also why I recommend to take photos more often.

Foto ngebantu gue untuk lebih fokus ke saat sekarang. Gue ga terlalu kuatir dengan gadget apa yang gue pake atau aspek teknis lainnya, asal moment-nya bisa gue tangkep itu udah bikin gue seneng. Gue juga jadi lebih menghargai keadaan sekitar gue; sesimpel kabut pagi hari,  warna daun yang baru tumbuh atau sinar matahari.

Genuine laughs and smiles.

Or the way your hair curls.

Kebahagiaan simpel yang terkadang terlewat gue hargai dan syukuri.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Bahagia Dengan Kamera

    1. Setuju sekali. Foto menyimpan saat-saat bahagia dalam suatu momen, meskipun momen tersebut tidak sepenuhnya membahagiakan. Suatu hari saat sudah lupa momen tersebut, ada foto bahagia yang mengingatkan (apa sih ._. )

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s