Bagaimana Jika Jessica Tak Bersalah?

Sejenak menempatkan diri di posisi Jessica.

Sekarang semua yang menyangkut nama-nama berikut: Jessica, Mirna, Otto dan Salihin; bikin mual. Bukan pertama kali ini kamera masuk ruang sidang dan seketika proses sidang jadi semacam serial TV. Bisa dibilang semacam serial TV yang nyambung mulu padahal pemirsa sudah banyak yang bilang stop. Memang pengadilan biasa berjalan sepanjang itu? Atau memang sengaja ditunda-tunda sesuai dengan slot waktu tayang yang kosong di TV? Entahlah.

Darmawan Salihin, ayahnya Mirna, juga bertindak sadar kamera sih. Tiap kali episode mau berakhir, beliau mengingatkan kembali ke “senjata pamungkas” yang beliau simpan erat. Setiap episode juga ada bintang tamunya masing-masing, yaitu saksi ahli yang sering buat pernyataan amazing. Mungkin karena rating berita ini tinggi, jadi wartawan juga seneng ngeliputnya.
Semenjak kematian Mirna di Olivier pada tanggal 6 Januari 2016, kehidupan Jessica berubah. Dari tanggal Januari – sekarang (Agustus 2016), si Jessica harus tinggal di penjara. Penjara di Indonesia terkenal dengan overcapacity-nya. Belum lagi risiko dilecehin oleh penghuni lain. Selain itu, penghasilan juga terputus gara-gara hidup di penjara. Itu masih belum tentu jadi terdakwa.

Kemudian, dia harus ikut proses pemeriksaan. Daan.., proses pemeriksaan itu mentally depressing. Gue sering denger cerita serem soal pemeriksaan di kantor polisi. Beberapa waktu lalu, gue juga sempet baca pengalaman pemeriksaan OB yang disangka melakukan pelecehan seksual di JIS. Bahkan ada satu OB yang meninggal dunia karena indikasinya penyiksaan saat pemeriksaan.

Media dan Internet Jadi Kompor

Kompor! Satu hal yang pasti dari kasus ini adalah setiap episodenya jadi ajang perdebatan di media dan internet. Setiap kali gue baca atau nonton berita kasus ini, pasti di kolom komen ada yang sok-sok jadi detektif, bikin analisa-analisa abal. Sampai senyum simpul, senyum setengah simpul, senyum nyinyir pun dianalisa sebagai indikasi bahwa mental Jessica terganggu.
Sisi menariknya adalah apapun yang dibahas oleh media mainstream (TV, koran, major newssite) jadi semacam trigger netizen untuk semakin berspekulasi.
black-and-white, circle, close-up
Mirip gelombang karena tetesan air. Source
Satu berita bisa menimbulkan puluhan video di Youtube, ratusan meme di Instagram dan Path, bahkan ribuan Tweet. Pada tanggal 31/8/2016, pencarian nama Jessica Kumala Wongso di Google menghasilkan 1.260.000 pages. Sedangkan nama gue cuma 80.600 pages.
On Jessica Kumala Wongso
Trend pencarian keyword “Jessica Kumala Wongso” di Google. Source
Topik yang dibahas di internet pun bukan cuma masalah fakta-fakta di persidangan, tapi sampai masalah pribadi. Unik sih, kantor berita besar pun sampe ngangkat berita yang gak jelas asal-usul dan topiknya:
Atau malah masa lalunya:
Ini yang menarik dari penayangan sidang Jessica-Mirna. Masalah pribadi, mungkin juga sudah berusaha untuk ditinggalkan atau mungkin sudah diobati, dimunculkan kembali sebagai bahan di meja sidang.

Shit. Lo bayangin kalo masalah pribadi yang udah lo kubur bertahun-tahun lalu, kemudian dibawa ke ruang sidang dan jadi konsumsi semua orang se-Indonesia. Kemudian hal-hal yang lo pikir ga signifikan, di-overanalyze kemudian digoreng dengan bermacam-macam prasangka oleh orang di luar sana. Mikirin gimana respon orang-orang yang lo kenal aja udah butuh satu sesi terapi psikolog sendiri.


Inti dari tulisan ini sebenernya adalah gue mau menyoroti peran media online dalam membahas suatu kasus kriminalitas. Padahal dalam UU Pers jelas bahwa kebebasan pers dibatasi oleh beberapa kewajiban hukum antara lain memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah.
Sekarang, coba kalo kita tempatkan diri kita di posisi Jessica.

Bagaimana jika Jessica Tak Bersalah?

Saat udah 1.260.000 pages di internet yang kemungkinan besar berisi tuduhan pembunuhan, bagaimana lo akan ngebersihin nama lo?

Saat ada perusahaan yang melakukan background checking untuk seleksi karyawan dan liat history lo di internet ada kata-kata “racun”, “pembunuh” dan “percobaan bunuh diri”, gimana lo jelasinnya?

Saat ada cowok yang ngajak kenalan, kemudian search nama lo di internet malah yang keluar informasi kopi sianida, gimana respon lo?

Tulisan ini sama sekali dibuat bukan dengan tujuan membentuk opini. Tidak ada sama sekali fakta persidangan yang gue bahas/analisa disini. Kasus Jessica-Mirna hanya sebagai contoh bahwa opini, yang sudah terlanjur terbentuk di internet, susah untuk diluruskan. Please klik like kalo suka dengan tulisan ini. Cheers!

Advertisements

4 thoughts on “Bagaimana Jika Jessica Tak Bersalah?

  1. Aku mah dari awal kasus ini ada sampe sekarang belum anggap Jessica bersalah karena emang gak ada bukti, yang ada cuma tuduhan2 aja. Tapi kalau toh dia ternyata bersalah, yauda hukum aja. Cuma kalau emang engga, kasian aja sampe orang-orang bilang “ngaku aja deh biar cepet selesai” – lah ngaku kalau ndak salah begimana 😐 hehehe entahlah, tunggu aja episode selanjutnya.

    Ini apaan dah pertama kali mampir sini, komen nya panjang amat. Salam kenal dulu deh hehe 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s