Seorang Mahasiswa UI Membuat Video di Depan Gedung Almamater dan Memakai Jaket Almamater, And It Went Viral.

2016-09-07-11-39-41_tolak20ahok1_thumb_634_350_c
Full video here. Source
Pemimpin adalah saya. Saya adalah pemimpin.
Setiap kita adalah pemimpin, tak peduli kaya ataupun miskin.
Menuju Indonesia yang adil dalam kemakmuran, dan makmur dalam keadilan adalah cita-cita besar setiap anak bangsa.
Ayo berjuang! Pantang menyerah!
Vivere Pericoloso! Salam Joss!
– Akhmad Basori (his profile here)
Itu adalah quote yang gue ambil dari video profil salah satu senior di kampus dulu, FEUI. Senior gue ini dulu adalah kepala bidang sosial politik BEMFEUI, yaitu bidang yang membawahi divisi pengabdian masyarakat dan kajian strategis. Dua divisi ini erat kaitannya dengan dunia pergerakan mahasiswa. Gue uraikan senior itu karena cocok untuk menggambarkan pola pikir orang yang ada di dunia mahasiswa pergerakan mahasiswa.

The Why

Dari gestur tubuh dan cara penyampainnya, senior gue ini terlihat sangat percaya diri dan bangga. Back then I was that proud. I want to be an agent of change. I want to be a part of history. I was told that I was special, that I should be grateful because I was lucky enough to be in that moment.
Banyak dari mahasiswa UI adalah anak daerah. Imej UI di mata anak daerah adalah universitas terbaik se-Indonesia. Ada rasa bangga yang dari awal sudah ada di benak kami. Kemudian, orientasi kampus mengajarkan kalo kami harus bersyukur bahwa gue beruntung bisa menuntut ilmu di UI. Di stage selanjutnya, kami ditanamkan rasa ingin balas budi ke negara karena sebenarnya fasilitas yang kami gunakan ditanggung oleh subsidi pemeritah, which is uang rakyat (very makes sense since it was only Rp 1,3 mio for a semester back then).
Ada tiga poin utama: kebanggaan, rasa syukur dan ingin balas budi.
Dari tiga poin utama itu, kepentingan rakyat (atau “rakyat”) seringkali jadi pemicu utama aksi-aksi mahasiswa UI. Biaya masuk UI gak jelas pada penerimaan mahasiswa baru tahun 2008, ada mahasiswa yang demo depan rektorat sambil bawa pisau. Mahasiswa ini mau iris kuping rektor karena tidak tepat janji. Pedagang kaki lima di stasiun Pondok Cina digusur, sebagian mahasiswa UI ngeblok rel KRL sampai harus bentrok dengan penumpang KRL yang marah. Asal kepentingan rakyat (atau “rakyat”), pasti ada aja mahasiswa UI yang mau turun ke jalan.

Freethinking Culture

writing

Tiga poin utama itu juga yang nge-drive sebagian mahasiswa UI untuk menggali lebih dalam. Tanpa disadari, kehidupan kampus berkembang ke organisasi, kepanitiaan, diskusi-diskusi di organisasi luar kampus, organisasi sayap parpol dan sebagainya. Dalam hal ini, setiap mahasiswa bebas memilih jalan masing-masing. Ada satu percakapan yang gue inget banget sampe sekarang.
“Lo sosialis atau kapitalis, fi?”, seorang temen tanya dengan santai.
“Gue lebih ke sosialis sih, lo?”,  jawab gue.
“Gue masih mau belajar dua-duanya. Sekarang masih terlalu cepet untuk memilih, padahal kita masih punya kesempatan banyak untuk ngegali kedua-duanya”, jawab temen gue.
Dengan proses belajar dan pola pikir sebebas itu, wajar jika seorang mahasiswa bisa ada di ekstrim kiri atau kanan. Itu normal untuk seorang pelajar, toh nantinya akan menemukan keseimbangannya sendiri seiring bertambahnya ilmu.

Semangat Perubahan

You know what’s funny?
Mahasiswa bisa melihat kesalahan dalam segala hal. Jadi, kami berusaha untuk melakukan perubahan. Saat perubahan itu terjadi, kami tidak mau menjadi penonton, kami mau jadi agent of change. Penggerak.
So we dream big. Kami buat simposium berskala nasional bahkan internasional untuk mengumpulkan ide-ide luar biasa. Kami turun ke jalan untuk meningkatkan awareness orang-orang atas isu-isu krusial yang sedang terjadi.
Ada sisi narsis dibalik semangat melakukan perubahan. Banyak yang ingin jadi Hatta, Sjahrir, atau Soe Hok Gie selanjutnya. Pasti ada almamater, wajah dan nama dalam setiap aksi yang berharap untuk diingat atau dicatat dalam sejarah.

Kesimpulannya

Jadi dengan:
  • Kebanggaan, rasa syukur dan ingin balas budi
  • Free thinking yang entah darimana dan,
  • Semangat menjadi agen perubahan

Mahasiswa UI tersebut mengkampanyekan kebencian SARA, melakukan provokasi dan mau mengganti sistem negara dengan sistem lain.

Gak heran -__- Ketiga poin yang gue jelasin di atas jadi semacam jerami yang jika kena api akan cepat berkobar. Api tersebut konteksnya adalah pemikiran-pemikiran ekstrim dari luar yang sengaja disebarkan di area kampus.

Anyway, mahasiswa yang ada di video itu telah menyampaikan permintaan maaf secara tertulis ke almamater hari ini (7/9/2016).


Thank you for reading this. Tulisan ini bukan untuk menggeneralisasi mahasiswa UI. Tulisan ini bertujuan untuk memahami background dari si mahasiswa dalam melakukan aksinya berdasarkan pengalaman gue dulu. 

Subscribe/like untuk mendapatkan sebuah doa tulus cepet ketemu jodoh/rezeki lancar/sukses karir dari saya. Dah!

Advertisements

One thought on “Seorang Mahasiswa UI Membuat Video di Depan Gedung Almamater dan Memakai Jaket Almamater, And It Went Viral.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s