Ngomongin Mario Teguh, Kiswinar dan Produk Motivasi

Processed with VSCO with 10 preset
Processed with VSCO with 10 preset

Hari ini gue liat videonya Mario Teguh menjawab kontroversi yang dilemparkan oleh Ario Kiswinar di Youtube. Gue nonton sampe 3 videonya karena cara Mario Teguh merespon pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bikin gue penasaran.

Sebagai seseorang yang terbiasa berbicara di depan publik, Mario Teguh datang dengan persiapan. Cerita dan jawaban yang dia sampaikan pasti terlebih dahulu disusun sedemikian rupa, minimal untuk mengurangi risiko blunder. Meskipun ada beberapa titik dimana ada tanda-tanda emosi dari tone dan gestur Mario Teguh, tapi secara overall he controlled himself really well.

Terlepas dari pihak mana yang benar, gue lebih tertarik untuk membahas produk motivasi ini.

Soal Motivasi

Gue pertama kali tahu tentang motivasi, atau umumnya self development sejak gue pertama kali masuk bangku kuliah. Banyak kelemahan di diri gue yang bisa gue improve jadi ya gue baca buku-buku soal self improvement. Gue ingat salah satu buku yang pertama kali gue beli soal self improvement adalah buku ini:

Image result for leil lowndes goodbye to shy
Good-bye to shy by Leil Lowndes. Source

Buku itu gue beli gara-gara gue nyadar kalo gue pemalu. Setiap kali akan berpapasan dengan orang yang gue kenal, gue lebih baik menghindar atau cari jalan memutar. Itu waktu kuliah loh -__-. Dari buku itu, pengembangan diri jadi salah satu genre yang gue suka baca sampai saat ini.

Itu menjelaskan posisi gue dalam melihat motivator dan segala macam produk motivasi yang dia sampaikan. Motivator adalah marketer. Skill utama seorang motivator sama dengan seorang marketer/marketing yaitu membuat orang lain percaya bahwa dirinya butuh segala sesuatu yang motivator tawarkan. Petuah-petuah lama biasanya dibungkus ulang supaya lebih relevan untuk dijual di masa kini.

Gue melihat produk motivasi (kata-kata mutiara, cerita-cerita motivasi dan lain-lain) sudah gak seperti dulu. Dulu, gue gampang terpukau dengan cerita-cerita motivator. Tapi belakangan gue lebih realis, kalo ga mau dibilang pesimis. Meskipun begitu, gue tetep percaya kalo, once in a while, gue butuh denger kata-kata motivasi untuk memberikan inspirasi atau menyemangati. Sekarang, bentuk produk motivasi itu gue lebih suka dalam bentuk storytelling. That’s why gue bolak-balik bahas Medium dan Quora, karena disitu banyak cerita-cerita yang memotivasi.

Perubahan ini karena gue udah memasuki masa-masa pra dewasa jadi gue udah punya sedikit gambaran soal hidup dan cara menghadapinya. Jadi yang gue butuhkan bukan kalimat bijak dari orang-orang yang sudah sukses, tapi cerita mengenai cara orang sukses tersebut mengatasi kesulitan untuk menggapai kesuksesannya. Dengan menceritakan dirinya di saat susah, si pencerita itu menempatkan dirinya selevel dengan gue dan efeknya adalah “Gue aja bisa, masa lo ga?”. Itu.

Mario Teguh dan Marketing-nya

Berita mengenai Mario Teguh yang dihujat di media sosial bikin gue miris. Kentara sekali bahwa selama ini masyarakat mendewakan sosok Mario Teguh ini. Di lain sisi, Mario Teguh juga lengah dalam mengantisipasi perubahan arus informasi.Di jaman sosmed, tetesan air dapat dengan mudah menjadi gelombang besar jika tidak dikendalikan. Salah satu cara mengendalikannya ini adalah dengan cara antisipatif, yaitu kejujuran dan keterbukaan. Mendengarkan berita negatif dari orang ketiga rasanya lebih sakit daripada mendengar pengakuan langsung  dari orang pertama, bukan begitu?

Case Mario Teguh ini bisa jadi awal kesadaran masyarakat bahwa manusia yang sempurna itu sudah lama gak ada. Imej “kesempurnaan” merupakan trik marketing jadul yang harusnya udah lama masuk tempat sampah. Berbuat salah adalah sifat manusia dan itu yang membuat manusia menjadi manusiawi.

Setelah Mario Teguh, motivator-motivator tipe baru akan muncul. Motivator-motivator yang menganggap dirinya adalah pembalik keadaan, yang menjelaskan dengan contoh, yang tidak terjebak dalam gimmick. Bahkan title motivator akan hilang diganti dengan educator, author atau keynote speaker. Kemudian, topik “motivasi”-nya bisa bergeser ke persoalan hidup yang lebih konkrit.

Nb: Kalo dipikir-pikir fungsi motivator sama dengan fungsi cheerleader: ngasi semangat 😀

 

Advertisements

2 thoughts on “Ngomongin Mario Teguh, Kiswinar dan Produk Motivasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s