Dikunci, Tapped Out, Lalu Nangis

judo1

“Sampai pingsan pun, Dita gak mungkin nepak (tap out)!”, kata seorang ibu berkerudung di belakang gue.

Ini Dita Ananda setelah juri memutuskan bahwa dirinya kalah setelah menepuk badan lawannya dua kali sebagai pertanda menyerah. Dita dalam posisi dikunci. Badannya ditindih lawan. Mungkin karena kesulitan bernapas, Dinda “nepak” dalam hitungan detik.

Kuncian adalah teknik umum digunakan di judo. Kuncian di Saat seseorang dikunci lehernya, aliran darah berkurang sebanyak 13%. Kemudian terjadi gangguan penglihatan berupa hilangnya kemampuan penglihatan dalam mengidentifikasi warna. Jika kuncian berlangsung sampai 8 detik, bagian otak yang bernama korteks frontal berhenti berfungsi. Jika sampai 9 detik, orang yang dikunci akan pingsan (brainstuffshow.com, bloodyelbow.com).

Di suatu tempat yang jauh, ada seorang anak yang sedang dalam perjalanan ke latihan bela diri pertamanya. Merpati putih merupakan ekstrakurikuler di SMP-nya. Tapi sepanjang jalan, pikirannya menimbang opsi lain selain datang ke latihan bela diri. Dia ingat ada rental PS di lantai 2 pasar yang tidak jauh dari sekolahnya.

Uang pendaftaran ekstrakurikuler sudah di tangannya. Cukup untuk main 2-3 jam main di rental PS. Yang perlu dilakukannya hanyalah tidak bilang “kiri!” ke tukang angkot sampai angkot sampai di pasar. 

Dari kejauhan, sekolahnya mulai tampak. Kecil kemudian membesar, semakin dekat. Saat berada di satu titik tempat dia biasa bilang “kiri!”, dia diam. Sekolah berlalu begitu saja di luar jendela. Begitu pula kesempatan belajar yang sampai saat ini disesalinya.

Kemarin, gue ke GOR Saparua untuk nonton pertandingan judo Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016. Gue sama sekali ga ngerti judo dan ga baca apapun sebelum pertandingan. Gue dapet info rundown pertandingan pas gue udah di GOR Saparua. Ternyata, pertandingannya memperebutkan empat medali emas dari kelas -55 kg putra, kelas -60 kg putra, kelas -45 kg putri, dan kelas -48 kg putri.

Tanpa ada angin apa-apa, gue mutusin buat nonton PON. Gue dari SD – kuliah ga pernah minat sampe segitunya dengan olahraga. Bahkan untuk olahraga yang umum disukai laki-laki, misalnya sepakbola, gue buta. Gue cuma main untuk sosialisasi.

Setelah beberapa tahun terakhir rajin olahraga, gue tertarik dengan combat sport. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari combat sport. Fighter, apapun jenis olahraganya, bukan hanya ditempa fisiknya tapi juga mentalnya. Ini yang bikin gue salut sama fighter. Cerita-cerita mereka di luar arena juga sangat menarik untuk diikuti. Kalo cuma tukang berantem, ga bakal bisa bertahan lama lawan fighter-fighter ini. They’re both athletes and warriors.

 photo Judo2_zpsy03asshy.jpg

Setelah gue googling, Dita ini ternyata telah bertanding di PON XVIII tahun 2012. Saat itu, Dita berhasil meraih medali perak alias kurang selangkah ke medali emas. Dita diberitakan tidak bisa mengikuti SEA Games tahun 2013 karena cidera ligamen saat pelatnas. Tampaknya di PON kali ini, Dita harus puas dengan meraih medali perunggu.

She cried but that doesn’t mean she is weak. Gue kalah dari dia, jauh sebelum masuk arena. Kalah waktu gue mutusin main PS daripada latihan bela diri. Tulisan ini ada karena gue salut sama atlit-atlit muda yang kemarin gue liat. Kalo gue bisa muter balik waktu, mungkin gue bisa jadi salah satu di antara mereka. Nyesel emang selalu datang belakangan -__-

 

Advertisements

5 thoughts on “Dikunci, Tapped Out, Lalu Nangis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s