#Ideasharing: Peluang di Usaha Kuliner

Akhir-akhir ini banyak muncul restoran/kafe yang menu utamanya adalah fast food. Fast food yang gue maksud disini bukan fast food ala McD, Pizzahut atau even Hoka-hoka Bento. Fast food tipe ini muncul dari nostalgia netizen mengenai makanan-makanan yang mereka konsumsi saat kuliah/ngekos kemudian ditambah macem-macem bahan baru yang sedang hits.

Beruntunglah lo yang baca tulisan ini karena gue akan share resep bisnis kuliner yang booming saat ini. Tanpa perlu jadi Pak Bondan dan Farah Quinn, restoran lo bisa rame 24/7 jam dan diomongin banyak orang. Ini resepnya:

resep-laku-bisnis-kuliner

Voila! Jualan lo akan laku-selakunya.  Ga percaya?
Resep ini dipakai anak presiden di usaha martabaknya. Markobar, usaha martabak anak presiden, terkenal dengan menu ultimate-nya yaitu martabak 16 rasa.
Hasil gambar untuk MARTABAK MARKOBAR 16 RASA
Martabak Markobar 16 rasa. Liputan6.com
Kalo lo anggap tulisan gue barusan serius, silahkan pake bagannya untuk bikin produk kuliner baru. Sementara kalo lo tau gue cuma becanda, gue miris melihat perkembangan kuliner/kafe/restoran di Bandung terutama dari segi menunya.
Secara garis besar, gue bisa bagi tempat makan jadi dua.
Pertama, tempat makan yang didatengin orang tua atau khusgipusnya senior gue di kantor (Tipe 1). Tempat makan Tipe 1 ini biasanya jual makan-makanan dengan menu tradisional, contoh Rumah Makan Ibu Haji Ciganea, Mie Akung, Mie Naripan, Iga Bakar si Jangkung dan lain-lain. Ciri-cirinya adalah:
  • Menu makanan tradisional
  • Sudah terkenal dari jaman dulu
  • Punya satu/dua menu yang jadi andalan
  • Berbentuk restoran = orang dateng ke tempat itu buat makan aja
Kedua, tempat makan yang didatengin anak muda (Tipe 2). Tempat makan Tipe 2 ini biasanya berbentuk kafe/restoran. Contohnya kafe/restoran yang sering dipamerin di instagram/path. Ciri-cirinya adalah:
  • Makanan cepat saji dan bermacam-macam
  • Terkenal karena sosial media
  • Menu berubah sesuai tren
  • Restoran semi kafe, orang bisa dateng kesitu buat nongkrong
Dari yang gue amati di Depok dan Bandung, tren kuliner condong ke tempat makan Tipe 2. Sementara, perkembangan tempat makan Tipe 1 stagnan. Dampaknya adalah semakin sedikit tempat makanan yang menyediakan menu tradisional, tergerus dengan tempat makan tipe 2 yang rata-rata jualan fast food atau menu internasional.
Padahal, potensi kuliner di Indonesia belum tergali. Gue ga akan ngomongin mengenai macem-macem makanan khas suatu daerah karena informasi itu sudah banyak yang bahas. Yang gue mau bahas adalah mengenai resep masakan tradisional yang diperkenalkan kembali sebagai resep yang baru.
Gue punya teori bahwa keadaan sosial dan ekonomi suatu negara berpengaruh terhadap menu makanan penduduknya. Pengaruh itu bisa dilihat dari komposisi makanannya. Contohnya pada saat jaman penjajahan, penduduk Indonesia suka makan nasi karena nasi memberi energi dengan cepat karena mengandung karbohidrat dan gula yang tinggi. Kala itu, porsi nasi di dalam satu piring tiap kali makan juga besar karena penduduknya bekerja fisik seperti bertani dan berkebun. Maka, khususnya di Jawa, banyak muncul makanan yang basisnya nasi contoh: Nasi Rawon, Nasi Soto, Nasi Timbel. Kata nasi selalu ada di awal karena sebagian besar porsinya adalah nasi, kemudian ditambah kuah/lalapan/lauk. Padahal jaman sudah berubah, orang sudah jarang mengapresiasi karbohidrat tambahan. Udah jarang denger kan kalo orang makan di tempat tertentu karena nasinya banyak? Sekarang, perhatiannya sudah pindah ke protein.
Dari segi tampilan pun, tampilan makanan Indonesia seperti dipikir belakangan. Atau, yang penting bikin kenyang. Instead of melulu bangga dengan keragaman kuliner Indonesia, ini saatnya kita naik level dengan menyadari bahwa tampilan makanan Indonesia jelek. Gado-gado mirip tanah becek, rawon mirip air limbah (truth must be told! lol!).
Hasil gambar untuk remboelan
Nasi berkat, salah satu menu di Remboelan. Openrice.com
Jadi ide gue adalah memperkenalkan resep masakan tradisional dengan modifikasi di komposisi makanan dan segi tampilan. Restoran yang sudah menggarap pasar ini dengan baik adalah Remboelan, Marco dan Sagoo Kitchen. Meskipun begitu, pasar ini masih belum banyak digali. Setiap akhir minggu, restoran yang gue sebutin di atas selalu rame. Salah satu alasannya, restoran ini cocok untuk segala macam tipe orang yang datang; sendiri, couple, keluarga ataupun bisnis. Selain itu, menu makanannya bukan menu makanan yang musiman dan bisa dimakan kapan aja. Mereka make sure kalo resep yang mereka gunakan bener-bener bisa memuaskan lidah konsumennya. Atau paling ga, lidah gue yang udah terpuaskan :p

Thanks for reading. Gue tulis ini dari sudut pandang penikmat kuliner yang udah muter-muter macem-macem tempat makan. Please let me know kalo ada poin yang miss tentang konsep yang gue share ini. Thanks again! 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s