Muda, Beda dan Berbahaya

bad
Ini gue crop sendiri dari videonya. Gue emang punya rasa seni yang tinggi :p

First thing first, tulisan ini terinspirasi dari tulisan Bro Adhit berikut:

[Opini] Why must BAD? << Go check it out

Di tulisannya, Bro Adhit menyoroti mengenai konten dengan materi positif maupun negatif bisa jadi viral. Hari ini, gue baru tau ada music clip baru dari seorang rapper featuring selebgram. Mereka berdua terkenal karena kontroversinya; menggunakan kata-kata kotor, bertindak melawan norma ketimuran, dan lain-lain. Semakin banyak haters, bukan malah membuat mereka ciut. Music clip ini seakan menjawab hujatan-hujatan haters mereka di sosial media. Liriknya pun seakan menantang:

“Memang gue anak nakal. Sering kali ngomong kasar tapi masih batas wajar. Lo semua lah yang paling benar. Lo semua nilai kita dari luar. Pakai tato tapi tak pakai narkoba. Jangan nilai kami dari covernya” (Bad – YL feat A)

Kita hidup di dunia yang saling terhubung. Internet, dengan segala macem dayanya, membuat batasan-batasan antara budaya satu dengan yang lain saling mengiris. Masyarakat masih berpendapat budayanya adalah yang terbaik, sedangkan generasi penerusnya, yang lebih melek karena internet, lebih permisif. Jadi, munculah pertempuran sengit, yang gak tau gue dimana ujungnya, antara Budaya Timur vs Budaya Barat.

Yang Terjadi Sebelum Video Itu Muncul

Alkisah, ada seorang anak pintar yang tinggal di daerah. Kemudian, anak ini berhasil untuk menuntut ilmu di kota besar. Sayangnya, mungkin karena efek gegar budaya, anak ini mengalami perubahan-perubahan yang bertolak belakang dengan imej dirinya yang dulu. Kehidupannya di kota besar penuh dengan hingar bingar dan ini jadi konsumsi publik karena anak ini aktif di sosial media.

Publik pun kaget dengan kelakuan si anak. Kelakuannya tidak menggambarkan budaya Timur yang dijunjung. Kemudian, masyarakat mulai ramai-ramai mencari tau siapa anak ini. Deindividuasi pun terjadi.

Deindividuasi adalah sebuah konsep dalam psikologi sosial yang menjelaskan hilangnya kesadaran diri karena seseorang menjadi satu dengan kelompok[1]. Wikipedia.org

Tiga kunci utama terjadinya deindividuasi adalah:

  • Meleburnya individu ke dalam kelompok: Masyarakat berkumpul di kubu Budaya Timur
  • Anonimity, atau identitas pribadi seseorang tersamarkan: Identitas seseorang tersamar di internet
  • Tersimulasi dan pengalihan aktivitas: Ada provokasi yaitu kelakuan si anak di media sosial

Hasil dari deindividuasi ini pun jadi gila-gilaan. Masih ingat ada begal yang tertangkap lalu dibakar massa? Ini kejadiannya mirip seperti itu, dengan kondisi:

  • “Begal” diganti dengan “Si Anak”
  • “Dibakar massa” diganti dengan “dihujat ramai-ramai di media”

Budaya timur yang awalnya jadi dasar bergeraknya masyarakat pun seolah dilupakan. Masyarakat berbudaya timur ini seolah jadi mesin bully raksasa yang bekerja 24/7 untuk mengeluarkan kalimat-kalimat hujatan ke orang lain.

Kami Vs Mereka

Jika kami bersama, nyalakan tanda bahaya

Jika kami berpesta hening akan terpecah

Aku, dia dan mereka memang kita memang beda

Tak perlu berpura-pura, memang begini adanya

– Jika Kami Bersama, Superman Is Dead

Kemudian, anak tersebut bertemu dengan seorang rapper yang nasibnya sebelas dua belas. Sama-sama gegar budaya dan buanyak yang gak suka. Lewat musik rap, mereka kemudian membuat sebuah karya yang menyuarakan bahwa mereka akan tetap akan jadi apa adanya walaupun banyak haters-nya. Liriknya sebelas dua belas dengan lirik lagu Superman Is Dead di atas, tapi musik anak daerah dan rapper ini jelas lebih berbahaya, lebih menggebrak, lebih mengguncang. Buktinya nama anak itu sekarang (20/9/2016) jadi nama paling dicari di Google Indonesia. Bahkan, KPAI sampai harus diskusi dengan Menkominfo untuk mengantisipasi efek dari anak ini.

Hasil gambar untuk sid and nancy
Sid dan Nancy. Source: teriakan-oi.blogspot.co.id

Muda.

Beda.

Berontak.

Berbahaya.

Ini ngingetin gue pada punk movement di tahun 70an. Saat itu, musik stuck di situ-situ aja dan beberapa orang memutuskan untuk membuat musik sendiri dengan alat dan skill seadanya. Muncullah Sex Pistols yang berhasil mendobrak pakem-pakem bermusik dengan lirik, skill, performance dan ideologi mereka yang nyeleneh (Independent.co.uk).

Sebulan setelah mereka dikontrak oleh EMI, mereka bahkan mengucapkan “fucker” dalam interviewnya di televisi nasional.  Kejadian itu yang membuat kontrak Sex Pistols dengan EMI diputus. Meskipun berumur pendek, Sex Pistols jadi legenda. Berkat mereka ini, imej jaket kulit, boot dan rambut mohawk jadi milik berandalan-berandalan alias punk. Sampai sekarang mak-mak atau bapak-bapak takut kalo anaknya mulai deket-deket dengan punk.

Bisnis Kontroversi

Balik lagi ke si anak daerah dan si rapper.

Keduanya sekarang berhasil mendapat perhatian dari banyak orang. Perhatian di internet sama dengan uang di real life. Dan gue ingetin sekali lagi, ga ada yang namanya bad publication. Hanya ada free publication. Saat lo membenci seseorang dan menyebarkan lewat sosial media, itu sama artinya lo ngasih receh ke mereka. Pengiklan tertarik memakai mereka karena influence-nya yang besar. Tanpa sadar, masyarakat yang benci, menghujat dan lain-lain, malah mendukung mereka untuk membuat karya-karya lain yang mungkin lebih kontroversial.

Ini cuma ujung dari gunung es. Bukan tidak mungkin, dengan gaya dobraknya yang masif begini, banyak pengikut-pengikutnya yang mulai membuka diri dan menganggap anak daerah dan rapper ini sebagai role model. Kemudian, mereka berdua ini masuk di Whatever Hall of Shame Fame, seperti Pistols masuk Rock n Roll Hall of Fame.

Who knows?

Tapi jangan sampe deh. Semoga KPAI dan Menkominfo cepet dapet solusinya.


Thanks for reading. Gue sengaja hanya gak nyebut nama biar mereka ini gak lebih terkenal (tapi majang foto) -___-. Subs-subs-subscribe kalo tertarik baca tulisan gue yang lain. Gue rutin nulis >23 kali sebulan. Bulan ini masih minus 8 tulisan dan gue hanya punya 10 hari ke depan. Jadi minimal akan ada 8 tulisan yang muncul berikutnya. Stay tune!

Advertisements

4 thoughts on “Muda, Beda dan Berbahaya

  1. nice analysis!
    menurutku si anak itu mungkin awalnya cuma menginginkan aktualisasi diri sih ya, tapi terlalu dini buat mikir ke situ di usia remaja yang belum matang dan mereka belom bener-bener kenal siapa dirinya, jadi mereka rawan terpengaruh lingkungan. Padahal itu anaknya pinter. Well, I just hope they will meet people who can guide them to be wiser than this.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s