Punya Pengalaman Belajar Bahasa Lain?

advice, advise, advisor
Source: Pexels.com

Pengalaman gue belajar bahasa.. err.. budaya lain.

Salah satu topik di Medium hari ini adalah “Being bilingual”. Gue bisa tiga bahasa; Jawa, Indonesia dan Inggris.

Di rumah maupun di pergaulan masa kecil, gue pake bahasa Jawa. Di daerah Malang dan sekitarnya, bahasa Jawa yang dipakai adalah bahasa Jawa Arekan. Jawa Arekan adalah bahasa Jawa kasar yang dipakai di daerah Surabaya dan sekitarnya. Di Malang, bahasa ini dipakai di keseharian. Saat orang berbicara dengan orang yang lebih senior maka menggunakan bahasa Jawa Ngoko, yang lebih “lembut” dari Arekan. Baik Arekan maupun Ngoko, keduanya masih lebih kasar daripada bahasa Jawa yang dipakai di daerah Jawa Timur bagian barat dan Jawa Tengah. Malah ada yang bilang bahasa Jawa yang gue pake adalah bahasa Jawa paling kasar (Wikipedia.org).

Karena bahasa Jawa gue dianggap kasar, gue jarang pakai bahasa Jawa ini di lingkungan meskipun ketemu orang Jawa lain. Sekali salah pemilihan kata, gue bisa dianggep gak sopan. Misalnya penyebutan lawan bicara “kamu”. Gue biasa pake “koen”, sedangkan di  Jawa tengah pake “kowe”.

Bahasa Inggris pertama kali gue pelajari di kelas 5 SD. Sebelumnya, gue hanya belajar dari film, musik dan game aja. Sampai sekarang, bahasa Inggris adalah bahasa yang gue latih terus. Alasannya adalah gue gak pake bahasa Inggris di lingkungan kantor jadi takut luntur. Meskipun begitu, gue selalu pake baca dan denger Bahasa Inggris di luar kantor. Gue sering denger podcast kalo lagi commuting Depok – Bintaro, selain itu bacaan gue juga pake Inggris semua.

Sekarang bahasa Inggris udah kaya bahasa keduanya millenials sih. Analoginya gue dulu primary languange-nya Jawa dan secondary-nya Bahasa, kalo millenials primary languange-nya Bahasa dan secondary-nya Inggris. Ngedenger anak-anak pakai bahasa Inggris di percakapan sehari-hari sudah jamak sekarang. Lucu aja kalo ada yang ngaitin penggunaan bahasa Inggris dengan nasionalisme, padahal, let’s face it, sekarang tidak ada hari tanpa bahasa Inggris.

Bahasa Indonesia bener-bener gue pake saat kuliah. Pada awalnya, gue sengaja gak terlalu nimbrung dengan orang yang sedaerah agar gue bisa cepet nyerap dialek Jakarta. Pada akhirnya, ga ada yang tau gue dari Malang kalo gue gak ngaku.

Belajar Bahasa Adalah Belajar Budaya

Saat masa orientasi di kampus, gue pernah dibilang “cupu” sama senior. Saat itu, gue gak tau arti “cupu” jadi gue gak terlalu terpengaruh. Pun begitu dengan kata-kata “ceng-cengan” lainnya. Akibat lainnya adalah gue pernah pake kata “cupu” padahal situasinya gak cocok.

Jika bahasa Jawa Arekan dibandingkan dengan Bahasa Indonesia, struktur kalimat yang dipakai di percakapan sehari-hari juga beda. Gue kalo ngomong sering loncat-loncat, yang ternyata merupakan kebiasaan saat gue bicara pakai bahasa Jawa. Kalo gue lagi mudik, gue perhatiin kalo percakapan bahasa Jawa sehari-hari juga dengan struktur kalimat yang gak lengkap atau loncat-loncat.

Kadang kalo gue pake bahasa Inggris, gue sering sok pake idiom-idiom. Kadang malah idiom dulu yang gue pikirin, setelah itu baru ide. Kemudian, gue juga sering menyusun kalimat yang se-“native” mungkin, meski kadang terasa awkward. Hari gini, keterampilan bahasa Inggris seseorang diukur dengan tingkat kemiripan dengan native speaker, sampai ke logatnya. Orang yang bisa bahasa Inggris dialek British dinilai lebih tinggi dari yang bisa bahasa Inggris dialek Amerika apalagi Indonesia. Padahal banyak negara-negara yang pake Bahasa Inggris tapi masih kental logat aslinya.

Intinya, belajar bahasa adalah belajar budaya. Setiap kali gue baca buku/novel/majalah dengan bahasa lain, gue bisa dapet sekilas gambaran cara hidup orang yang ada di belahan bumi yang lain. Setiap kali gue ngobrol dengan orang yang berasal dari daerah lain, gue belajar bahwa anggapan terhadap suku dan ras tidak selalu benar. Ketika seseorang mau belajar budaya lain artinya orang tersebut mensyukuri keragaman.

Punya pengalaman belajar bahasa lain?

Advertisements

7 thoughts on “Punya Pengalaman Belajar Bahasa Lain?

  1. setuju, belajar bahasa itu belajar budayanya. kayak inggris british biasa pake sarkasme (jujur aja sih, aku baca artikel soal ini haha). trus kalo inggris amrik itu banyak pake idiom, kyk analogi2 gitu. like piece of cake, dkk. mungkin karena mereka lebih akrab dan terbuka sama hal2 di keseharian mereka? wonder why…

    Liked by 1 person

  2. Aku punya pengalaman belajar bahasa Jepang. Dan, ya, belajar bahasa adalah belajar budaya. Tapi kalo untuk bahasa Jepang, aku malah sebaliknya. Berawal dari belajar budaya Jepang ke belajar bahasanya. Dan itu lebih efektif menurutku. Kalo kita udah tahu budaya mereka, gak tau gimana jadi gampang aja gitu belajar bahasanya. Jadi “aru aru ni naru” (perasaan kayak, “oh iya ada/pernah”) kalo orang Jepang bilang.
    Terutama dari segi dialek.
    Sharing aja sih c:

    Liked by 1 person

  3. mungkin yang jadi concern beberapa orang itu kalau ada orang yang menulis/ngomong dengan bahasa yang dicampur, kayak contohnya aku ini ngomong bahasa indonesia tapi pakai istilah “concern”… tapi sebenernya itu sendiri bukan didasari motif apapun, hanya karena pola berpikir orang yang belajar beberapa bahasa terlanjur punya pola bahasa yang udah nyampur dan butuh effort buat melawan itu.
    aku sendiri pun masih berusaha nggak terlalu banyak mencampur aduk bahasa biar audiensnya nggak bingung. Anyway, menurutku ini salah satu issue yang sering ditemui orang yang bisa komunikasi beberapa bahasa.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s