Menguji Kesiapan Sebelum Beralih ke Wirausaha

Man Holding Chess Piece
Image credit: pixabay via Pexels

Salah satu kerjaan gue adalah melakukan review pendapatan orang yang akan mengambil kredit di bank. Dari kerja tersebut, gue mendapat insights mengenai bagaimana kondisi kerja wirausaha yang memulai dari bawah. Sebagai info, gue pernah ngereview orang dengan pendapatan Rp 10 Milyar per bulan. Pendapatan bersihnya Rp 1,5 milyar per bulan. Lebih dari pendapatan direktur BUMN perusahaan perbankan sekalipun. Usaha perdagangan ini telah dijalaninya selama 20 tahun. While money is not the main goals, like it or not, money helps to solve our problems.

Kaya gue, pasti ada dari kalian yang tertarik untuk pindah jadi wirausahawan. Beberapa orang yang gue temui (tentu sama-sama karyawan) ternyata menyimpan keinginan ini. Entah suatu hari, mereka ingin berhenti jadi karyawan dan jadi memiliki usaha sendiri. Memang wirausaha sedang jadi primadona alternatif pilihan karir untuk dijajaki. Popularitas wirausaha akhir-akhir ini mencuat karena ekspos dari pemerintah dan media. Pamor perusahaan teknologi yang awalnya dari usaha kecil-kecilan pun menjadi daya tarik tersendiri.

Wirausaha digadang-gadang memiliki keuntungan untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan kita. Siapa yang gak tergiur dengan iming-iming kebebasan finansial, jadwal kerja yang fleksibel, kepuasan diri dan banyak lagi keuntungan menjadi wirausaha lainnya? Dibalik keuntungan-keuntungan tersebut, transisi dari karyawan menjadi wirausahawan ternyata menyimpan tantangan tersendiri. Sebagai karyawan, gue terbiasa untuk dapet gaji yang fixed di akhir bulan, kerja lembur dalam waktu-waktu tertentu dan kemudian dapet hari libur yang gue rencanain dari jauh-jauh hari. Kadang kala, tanggung jawab juga masih bisa terbatas di jam kerja kantor. Lima tahun kerja dengan pola seperti itu membuat gue butuh masa orientasi untuk kembali masuk ke kondisi kerja yang mewakili kondisi kerja wirausaha.

Dari insights yang gue dapet dari para wirausaha di atas, gue tau kalo yang gue baca dan denger di buku dan media mengenai wirausaha terlalu condong ke masa-masa wirausaha yang sudah settle. Perhatian dalam membahas masa-masa berat di awal memulai usaha kurang ditekankan. Sehingga, karyawan yang terlanjur tergiur menjadi kurang perhitungan dan akhirnya kaget dengan realita kondisi kerja wirausaha. Apalagi jika lo sudah siap modal dan segala sesuatunya, ketidaksiapan lo jangan sampai menjadi alasan kegagalan berwirausaha.

Gue selalu menyiapkan worst scenario-nya. Gue beranggapan kesempatan yang akan datang ke gue pasti terbatas jadi gue harus siap segala sesuatunya. Poin-poin yang gue share ini adalah poin-poin refleksi yang gue pake untuk ngeliat kesiapan diri gue sendiri dalam perpindahan dari karyawan ke dunia wirausaha. Poin-poin ini mungkin bisa berguna bagi lo yang ingin beralih ke wirausaha.

Lupakan Sementara Work Life Balance

Kenyataannya, hidup di awal mula usaha adalah kerja keras. Contohnya orang yang sampai harus tinggal di ruko. Tempat kerja mereka ada tepat di bawah tempat tinggal. Rumah pun harus menyesuaikan dengan keperluan toko. Kerja dilakukan tanpa memperhitungkan jam kerja. Mereka menggabungkan aspek hidup dengan usaha. Coba bayangkan jika kondisi seperti itu dilakukan konsisten selama 10 tahun.

Untuk mencoba merasakan kerja dengan jam kerja yang panjang, coba kembali kerja setelah pulang kantor. Fokuskan 2 jam untuk mengerjakan sesuatu dengan serius, entah hal yang berhubungan dengan pekerjaan atau hal yang benar-benar selalu ingin kita lakukan. Kebiasaan ini akan mengetes konsistensi dan ketahanan dalam mengejar hal-hal yang lo inginkan. Saat lo nanti udah ada jadi wirausaha, lo dituntut untuk bisa memotivasi diri lo sendiri untuk siap setiap saat dalam memenuhi tuntutan usaha lo. Ada yang bilang jika jadi wirausahawan “you’re your own boss”, maka, sebagai bos, tegas ke diri sendiri itu tidak masalah.

Biasakan Beri Extra Mile

black-and-white, busy, career
Image credit: unsplash via Pexels

Atau coba jawab pertanyaan ini: jika perusahaan tempat lo kerja adalah perusahaan lo sendiri, mau gak lo kasih lebih dari yang diminta? Mindset ini bagus diterapkan karyawan untuk menyimulasikan keadaan saat menjadi wirausaha.

Ada orang yang memisahkan antara pekerjaan dengan dirinya sendiri dan terlalu perhitungan dalam pekerjaan. Orang ini menjadikan pekerjaan sebagai alasan dirinya stuck dan tidak berkembang. Padahal, pekerjaan bisa menjadi sarana untuk menguji diri sendiri. Buat to do list dan pastikan setiap blok waktu lo kepake dengan efisien. Kasih extra mile di setiap kerjaan yang menjadi tanggung jawab lo. Biasakan lebih proaktif.

Hitung dan Ambil Risiko

Banyak di antara wirausaha yang gue tahu, menjaminkan rumahnya ke bank agar mendapatkan uang untuk mengembangkan bisnisnya. Keputusan ini tentunya bukan tanpa perhitungan. Wirausahawan ini sangat sensitif jika ada kesempatan yang lewat di depannya. Kemudian, dia akan memperhitungkan risiko. Jika dirasa aman, wirausahawan ini berani main besar.

Poin gue ada tiga yaitu sensitivitas terhadap kesempatan, perhitungan dan keberanian. Ketiga sifat ini hanya bisa didapat dari jam terbang. Salah satu keuntungan menjadi karyawan dalam hal ini adalah kita masih punya pendapatan jika gagal dalam memperhitungkan risiko. Kita masih bisa meminimalisasi dampak dari kegagalan tersebut dan bisa mengumpulkan modal kembali untuk meraih kesempatan berikutnya. Lain halnya jika lo memilih untuk keluar pekerjaan dengan sejumlah modal, kemungkinan besar lo cuma punya satu kesempatan untuk mengembangkan bisnis lo.

Tanyakan “Jika gue kerja dalam waktu yang sama dengan pekerjaan gue sebagai karyawan, apakah gue udah bisa mendapatkan income yang sama dengan berwirausaha?”
Ini pertanyaan bagi orang-orang yang udah punya side job dan pertanyaan penting sebelum akhirnya kasih surat resign ke bos.

Gak bisa dipungkiri, hidup sebagai karyawan membuat gue ada di standar hidup yang beda dari sebelumnya. Gue ada tagihan KPR yang harus dibayar, tagihan kartu kredit, tagihan listrik setiap bulan. Kalo gue keluar dari kerja sekarang, gue bukan hanya gak bisa makan, tapi juga dikejar-kejar debt collector.

Pertanyaan di atas bisa diperhalus dengan menentukan biaya hidup minimal per bulan yang harus lo dapatkan. Kemudian coba bandingkan pendapatan per jam dari kerja dengan pendapatan per jam dari karyawan. Jika pendapatan per jam dari kerja masih belum bisa terlewati artinya masih ada yang ditingkatkan dalam side job lo.

Banyak orang merasa bahwa pekerjaannya sebagai karyawan adalah penghalang untuk mencapai potensi maksimal dirinya. Namun jika dilihat dari perspektif yang lain, bekerja menjadi karyawan adalah saat yang tepat untuk mengimplentasikan mindset wirausaha dengan aman. *shakehand*

Never worry to go hard on yourself, you’re your own boss after all.


Jika tulisan ini berguna, please click share ke social media ya 🙂 Lo juga bisa follow gue di Twitter, atau subscribe ke blog ini dengan menulis email di kolom bawah atau kolom samping (jika via desktop).