Dear Bapak Penceramah Jum’atan,

img_3959

Ada kekhawatiran di dalam diri saya bahwa suatu saat saya bisa loncat ke mimbar cuma agar Bapak berhenti khotbah. Berulangkali saya harus saling menepok jidat di antara kami karena khotbah Bapak. Silahkan bilang saya tidak percaya Bapak atau agama Bapak, lantaran tulisan ini. Saya memang belum percaya, jika belum bertanya.

Saya masih belajar. Atau lebih tepatnya, saya belajar ulang. Selain belajar agama di sekolah, saya dulu setiap hari ngaji di pondok pesantren dekat rumah. Besar di lingkungan NU, saya juga rutin ikut Shalawat Diba setiap Selasa sore dan Tahlilan setiap Kamis malam. Kegiatan rutin tersebut saya ikuti sejak umur 5 tahun sampai saya SMA. Segala macam pendidikan agama yang saya dapatkan semasa kecil membentuk karakter saya sekarang. Seorang skeptis.

Saya tidak percaya sebelum pertanyaan-pertanyaan saya terjawab.

Pada awalnya saya diminta menelan nilai-nilai agama tanpa bisa bertanya. 10 tahun membaca Quran, belum pernah sekalipun saya dalami makna terjemahannya. Saya memilih untuk langsung mendengar saja nilai-nilai tersebut dari ceramah Bapak. Lingkungan saya menganggap Bapak seperti guru besar yang tidak mungkin salah. Jika berkumpul, tempat duduk Bapak khusus ada di samping si pemilik hajat. Kami pun tidak berani mulai makan sebelum mendengarkan wejangan dari Bapak.

Kemudian saya mulai keluar dari kampung. Saya berkenalan dengan orang-orang yang bapak bilang “kafir”. Saya baca pemikiran-pemikiran orang-orang Buddha, Hindu, Yahudi dan Nasrani. Saya pakai produk-produk yang mereka ciptakan. Meskipun Bapak pernah menjelaskan mengenai bahayanya menyerupai suatu kaum, penampilan saya sekarang jauh dari gamis, celana yang digulung maupun jenggot. Nilai-nilai agama yang basisnya ritual sudah mulai luntur, digantikan nilai-nilai yang saya dapat dari pertanyaan dan pencarian jawaban. Dari pencarian saya, saya mendapatkan pelajaran lain soal nilai-nilai moral yang saya anut.

Ketahuilah, pak.

Bahwa bukan saya saja yang mengalami hal seperti ini. Umat manusia sedang dalam proses penyatuan karena kemajuan teknologi. Kami berinteraksi via dunia maya, saling bertukar nilai dan pandangan hidup. Kami belajar bahwa mayoritas kebenaran adalah temporer, kebenaran hasil konvensi. Kebenaran berasal dari uji coba berulang kali atas suatu hipotesa. Kebenaran akan jadi kebenaran sampai suatu hari kebenaran tersebut bisa diputarbalikkan oleh pengujian lainnya. Setiap dalil yang keluar dari mulut Bapak bisa saya cross check dalam hitungan detik. Sekali lagi, hal ini bukan saya saja yang merasakan. Banyak orang lain di luar sana, yang lebih pintar dari saya, merasakan hal yang sama.

Seringkali materi yang Bapak utarakan di ceramah Bapak bertentangan dengan nilai-nilai yang saya pelajari.

Nasrani dan Yahudi tidak dapat langsung dikategorikan sebagai antagonis, Pak. Saya mengenal banyak teman yang Nasrani dan tahu beberapa Yahudi. Toh, buktinya tidak seperti Bapak bicarakan. Bapak bisa dicap rasis jika berkata demikian atau, yang lebih parah, agama Bapak bisa dicap rasis. Umat dihadapkan pada keadaan yang sulit. Di Amerika, Islam dibenci layaknya LGBT dibenci disini. Setiap ucapan kebencian yang anda katakan terhadap orang lain, akan berbalik ke umat di belahan bumi lain sana.

Stop pakai teori-teori konspirasi itu lagi ke saya, karena teori-teori itu membuat orang dengki tanpa mau mengusahakan perubahan. Stop bilang Amerika dan Yahudi adalah dalang dari ini semua. Itu pembodohan. Jika umat memang dibodohi, cukup bilang umat bodoh. Mengakui kelemahan lebih baik daripada melimpahkan kesalahan ke orang lain tanpa dasar yang jelas.

Kehidupan dunia dan akhirat sepatutnya jangan dipisahkan, Pak. Saya yakin ada suatu formula untuk menyelaraskan tujuan hidup di dunia dan di akhirat. Jika orang-orang berpikir bahwa manusia hidup di dunia hanya untuk mengejar akhirat, maka saya kuatir umat terlalu fokus pada ibadah ritual, Pak. Padahal dengan potensinya, umat bisa lebih berguna bagi orang lain jika mereka juga mementingkan hal duniawi.

Saya tak mempan diiming-imingi surga dan ditakut-takuti dengan neraka. Secara garis besar, dosa saya jauh melebihi kebaikan yang saya lakukan. Pun begitu, setiap harinya saya menjalani hari saya dengan niatan baik: berguna bagi lingkungan sekitar saya. Tanpa diingatkan pun, saya mengerti jika kebaikan akan berbalik kebaikan dan kejahatan akan berujung kejahatan. Yang saya takutkan adalah hidup yang saya jalani sia-sia tanpa membawa kebaikan yang akan terus berakumulasi bahkan ketika saya sudah meninggal.

Terakhir,

Khotbah Jum’at adalah satu-satunya channel agama yang saya ikuti tiap sekarang, Pak. Saya sudah menghindari beberapa tempat karena penceramahnya terbukti pake sumber-sumber ekstrim. Harapan saya dengan tulisan ini, penceramah bisa memanusiakan pendengarnya. Memang pengetahuan kami terbatas, tapi bukan berarti kami tidak mengharapkan perkembangan dari bahan ceramah Bapak.

Saya juga percaya bahwa ada benang merah di setiap agama, yaitu nilai-nilai moral yang universal. Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi batas maksimal yang tidak boleh dilangkahi dalam setiap bahan ceramah. Dalam hati saya, saya percaya jika Quran menyimpan jawaban atas segala permasalahan. Bantu saya untuk mengurai rahasia-rahasia Quran dengan ceramah Bapak, yang insha Allah, akhirnya menaikkan kadar keimanan saya.

Advertisements

3 thoughts on “Dear Bapak Penceramah Jum’atan,

  1. “Bahwa bukan saya saja yang mengalami hal seperti ini. Umat manusia sedang dalam proses penyatuan karena kemajuan teknologi. Kami berinteraksi via dunia maya, saling bertukar nilai dan pandangan hidup. Kami belajar bahwa mayoritas kebenaran adalah temporer, kebenaran hasil konvensi. Kebenaran berasal dari uji coba berulang kali atas suatu hipotesa. Kebenaran akan jadi kebenaran sampai suatu hari kebenaran tersebut bisa diputarbalikkan oleh pengujian lainnya”
    ___
    Luar biasa thor… mungkin di generasi selanjutnya, orang-orang seperti anda yang harus mengisi ceramah. 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s