Sharing Soal Membeli Rumah Pertama

Jadi beberapa hari yang lalu, ada seorang teman yang datang ke gue dan nanya-nanya soal pengalaman beli rumah pertama. Dengan background audit di KPR dan pernah beli rumah pertama, gue akan share beberapa hal yang penting untuk diketahui sebelum memutuskan untuk membeli rumah pertama. Gue harap kalian bisa relate karena contoh kasus yang gue ambil adalah kasus gue sendiri dalam pengambilan keputusan beli rumah di daerah Depok.

Soal Depok

Gue familiar dengan Depok. Sebelumnya gue udah tinggal di Depok selama lebih dari 4 tahun dan sebelum itu, gue kuliah di Depok. Gue melihat Depok adalah tempat yang cocok untuk keluarga karena kota Depok merupakan kota pendidikan. Karena familiaritas itu pula, gue bisa dengan yakin menilai daerah-daerah yang memiliki potensi untuk maju. Sejak bulan November 2014, gue udah mulai pasang peta Kota Depok gede-gede di kamar kosan dan, mulai sedikit demi sedikit, menandai area-area yang mengalami pertumbuhan.

Perkembangan Kota

Informasi mengenai perkembangan kota, gue cari dari berita-berita online. Jika punya akses ke unit/pihak tata kota, informasinya akan lebih akurat. Salah satu hal yang menarik perhatian gue adalah perkembangan moda transportasi KRL dan perkembangan pembangunan tol Cinere-Jagorawi. Moda transportasi KRL berkembang dengan semakin baiknya infrastruktur dan bertambahnya jadwal keberangkatan kereta. Sedangkan proyek pembangunan tol Cinere-Jagorawi saat itu sudah sampai ke ujung Jalan Juanda Depok dan proyek . Jadi dengan mengetahui kedua info tersebut, gue bisa filter daerah-daerah yang 5-10 tahun ke depan rame. Kenapa harus melihat 5-10 tahun ke depan? Karena beli rumah bagi gue adalah sekaligus investasi; beli barang yang murah dan, nanti pada saatnya, jual dengan harga mahal.

Jadi dengan kedua fakta tersebut gue udah punya patokan daerah-daerah ini akan maju di Depok: Mampang, Tanah Baru, Kota Kembang, Citayam, Cinere, Matoa, Pitara dan Kukusan. Sebenarnya, jika kita langsung turun ke lapangan pun pasti akan segera tahu bahwa daerah tersebut memang menjadi target pengembang. Harga rumah baik inden maupun ready stok di daerah tersebut juga lumayan tinggi. Contohnya: Pernah gue survey ke daerah Matoa, yang sepi banyak begal, harga rumah sudah sekitar 600-700 jutaan. Ada pula perumahan yang baru mulai dibangun dengan harga “wajar” dibawah 500 juta untuk 36/72 atau 48/72.

Setelah tahu areanya, maka gue mulai mempersempit area pencarian dengan fokus ke perumahan/rumah tertentu. Setiap hari Sabtu/Minggu, gue sempatin untuk muter-muter area target sambil foto-foto spanduk jual rumah/developer. Tips: jangan lupa untuk geo tag foto biar gak lupa lokasi pengambilan fotonya. Selain itu, gue juga rajin lihat-lihat situs jual beli rumah, misal: rumah.com, rumah123, atau searching via google jika ada rumah di area target yang dijual. Oya, info tambahan: iklan-iklan di situs-situs jual beli rumah biasanya didominasi oleh iklan yang gak ada alamat lengkapnya. Biasanya iklan-iklan tersebut diposting oleh agen/makelar perumahan. Ada baiknya kalo lo juga dateng ke makelar/agen lokal untuk ngecek stok rumah yang dijual. Seringkali informasi dari makelar/agen lokal ini lebih akurat karena mereka punya stok di daerah yang biasanya terlewati. FYI, gue dapet informasi ada yang jual rumah ini dari agen perumahan.

Memilih Rumah

Dengan budget yang terbatas, seseorang hanya bisa milih 2 dari 3 kondisi rumah berikut:

  • Harga Murah
  • Lokasi Bagus
  • Kondisi Rumah Bagus

Misal: Jika lo ingin rumah dengan harga murah dan lokasi bagus, maka akan sangat jarang menemukan kondisi rumah yang bagus. Atau jika mau harga murah dan kondisi rumah bagus, maka kemungkinan besar rumah yang lo beli adalah rumah yang ada di dalam perumahan yang baru dibangun developer sehingga lingkungannya masih belum mendukung.

Pemilihan di atas tergantung keperluan masing-masing sih. Ada yang bener-bener beli rumah hanya untuk investasi jadi sengaja pilih yang harga murah dan kondisi rumah bagus, sehingga beli rumah yang lokasinya jauh karena melihat bahwa daerah tersebut 10-15 tahun ke depan akan maju. Dalam case gue, gue beli rumah di daerah GDC/Kota Kembang dengan harga yang relatif murah. Gue milih harga murah dan lokasi bagus, tapi kondisi rumah belum rapi. Jadi, gue spent uang untuk renovasi agar rumah tersebut lebih layak ditinggali.

20150510_120640.jpg
Before

 

20150716_144653.jpg
Lebih rapih lah ya..

Ada hal lucu saat pertama kali gue masuk ke rumah dengan ukuran 36/72. Luas bangunan 36 m2, dan luas tanah 72 m2. Kecil ya? Bahkan di situs-situs luar negeri, orang bilang ini tiny house. Dulu gue sering ke komplek-komplek tentara dengan rumah yang luasnya kurang lebih sama dengan rumah yang gue tempatin sekarang, dan gue dulu bilang bahwa rumah mereka kecil amat jika dibandingkan dengan rumah keluarga gue dulu. Gue balikin lagi ke keperluan sih. Sampai 1,5 tahun gue di rumah ini, gue hanya pakai 3 ruangan dengan total mungkin cuma 24 m2 aja. Selebihnya masih belum bener-bener gue perlu pake, jadi gue pake untuk menyimpan barang. Ya mungkin baru kepake nanti kalo udah punya keluarga (*kode* -__-).

Oke lah, gue nulis ini untuk ngebuka diskusi jika ada yang mau tanya soal KPR dan beli rumah pertama ya. Silahkan ditulis di bagian komen jika ada yang mau ditanyakan, gue akan seneng banget jawabnya. Atau ada yang mau ngeshare juga pengalaman beli rumah pertamanya? Silahkan aja coret-coret di kolom komentar. Di post selanjutnya, gue akan bahas tips-tips untuk apply KPR di bank. Cheers!

Advertisements

11 thoughts on “Sharing Soal Membeli Rumah Pertama

    1. Halo, thanks for the comment. Ini maksudnya nabungnya ya, mas? Saya dulu fokus untuk nabung dan hemat pengeluaran.

      Detailnya begini, saya beli rumah dengan harga Rp 390 juta. Dengan kondisi fasilitas kredit kantor maksimal 300 juta, saya harus pakai tabungan sekitar 140 juta untuk DP rumah (90 juta), biaya akad kredit (20 juta) dan biaya renovasi 30 juta. Saya nabung 2-3 tahun dengan pendapatan dari gaji, bonus dan lainnya. Persentase tabungan bisa 60-70% dari gaji.

      Kalau yang ditanya persentase cicilan dari pendapatan, umumnya bank mematok di angka 35%. Saya ambil KPR jatuh tempo 20 tahun dengan bunga karyawan, dengan presentase cicilan ke pendapatan 25-30%. Jika memakai rate KPR normal bank (biasanya 11-13%), cicilannya ada di angka 3,1 juta – 3,3 juta.

      Semoga bisa membantu. Kalo ada pertanyaan, feel free untuk comment lagi 🙂

      Like

    1. Halo, om. Kalo bisa milih, saya milih tinggal di rumah keluarga sendiri dan menabung. Sedikit demi sedikit beli tanah, bahan bangunan dan membangun rumahnya. Itu skenario yang paling bagus dari segi ekonomi, om. Haha. Tapi kenyataannya, saya dulu harus milih antara beli rumah dan sewa (ngekost). Dengan kondisi harga rumah yang harganya naik gila-gilaan dan takut gak kekejar oleh kenaikan gaji (tahun 2012-2015, BI sampai membatasi kepemilikan rumah karena banyak yang “main” di sektor properti), saya milih beli rumah.

      Memang kalo dihitung 3 juta per bulan, atau sekitar 36 juta per tahun, atau sekitar 720 juta di akhir jatuh tempo. Saya harus bayar ke bank 320 juta lebih.

      Pertimbangan saya adalah perbandingan dengan biaya sewa rumah di sekitar rumah saya per hari ini adalah 20 juta per tahun. Jika dibandingkan dengan menyewa (saya tidak dapat aset apa-apa), saya hanya perlu invest 1 juta tambahan. Lalu, saya tidak berencana untuk membayar semua bunga dan pokok hutangnya sampai 20 tahun. Hehe. Saya yakin sebelum tahun ke 10, harga rumah saya sudah melebihi jumlah bunga dan pokok hutang saya di bank. Sejalan dengan perkembangan keluarga (punya anak dll), saya berencana menjual rumah tersebut dan menggunakan uang tersebut untuk cari rumah lain. Selain itu, saya juga tetep rajin nabung untuk pelunasan rumah tersebut. Pada intinya, saya tidak akan bayar sampai tahun ke 20 🙂

      Di luar pembahasan ini, jika mau beli rumah tapi terhalang dana, pilihan pertama tetap menabung dan membangun sendiri. Saat single, beli tanah dulu yang daerahnya strategis. Nanti bangun rumahnya saat sudah berkeluarga, dengan catatan ngontrak/tinggal di mertua dulu 🙂

      Like

  1. makasih tips nya mas dan baru tau ada kalau beli rumah lokasi bagus tempat harga tapi rumahnya masiih belum bagus, semoga saya juga bisa beli rumah, hehe, enak pembawaan tulisan ga nyangka udah di akhir artikelnya haha sukses terus mas, mampir ke sini gara2 tulisan mas di kaskus haha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s