Cat Putih Aja Semuanya,  Pak! 

Itu yang gue bilang ke bapak mandor tukang saat dia tanya soal warna cat rumah.  Cat awal rumah gue dulu warna kuning dan bagian kamar warna biru. Si empunya sebelumnya pernah bilang kalo seharusnya warna birunya gak segelap itu dan warna kuningnya gak senorak itu. Haha. Alasan gue cat warna putih adalah gue liat rumah sebagai kanvas yang akan gue cat pake memories -__-. Rada emo emang,  tapi emang begitu. Gue pengen barang-barang yang nanti ada di dalamnya bisa lebih pop up jika temboknya warna putih. 

Alasan lain adalah soal luas rumah. Gue ada di masa peralihan dari terbiasa tinggal di rumah luas di kampung ke rumah kecil (bahkan kategorinya tiny kalo menurut apartment therapy). Setelah gue baca sana sini,  cat warna terang bisa memberi kesan rumah lebih luas. Soal luas rumah kadang menjadi masalah sendiri saat beli rumah. Gue dulu masih punya pemikiran bahwa “ini rumah kok kecil amat yah”, padahal sampai sekarang pun hanya maksimal 50% dari rumah tersebut yang gue pake dengan maksimal. Gue melihat tren di masa depan bahwa orang-orang akan tinggal di space yang lebih kecil (apartment/small house) jadi tempat tinggal yang lebih kecil adalah sesuatu yang harus gue adaptasi. 

Gaya hidup di rumah gue masih persis dengan gaya hidup di kosan. Gue tidur di kamar yang lebih kecil karena lebih gampang untuk dibersihin dan dikontrol. Gue juga masih belum ada ranjang, haha. Hal pertama yang gue beli di kamar adalah meja kerja yang bisa dilipat ke tembok untuk menghemat tempat. Furnitur yang gue pake frequently adalah sofa, bangku, meja kerja,  closet, lemari buku dan dua tumpuk container yang berubah jadi meja. Gue coba untuk lepas dari aturan-aturan bahwa rumah harus gini-gitu dan hanya memakai sesuai dengan keperluan gue saat ini.

Beberapa waktu lalu,  gue menjawab pertanyaan di Quora mengenai umur dan aset gue. Gue baru sadar kalo sebelum gue move ke rumah,  gue minim barang. Selain pakaian dan peralatan mandi, barang yang bener-bener gue miliki adalah

  • Kamera,
  • Handphone
  • Laptop rusak
  • TV,  
  • Buku,  
  • Barbell,
  • dan rak buku Olympic -_-

Sementara motor,  kipas angin dan water heater dipinjemin. Setelah tinggal beberapa minggu di rumah, gue baru nyicil untuk beli furnitur yang lain. Ada cerita bahwa Steve Jobs dulu sangat memilih furnitur di rumahnya sampai-sampai rumahnya cenderung kosong. Ga habis pikir gimana Steve Jobs sakit punggung gara-gara tidur di lantai. Been there done that, got the backache.

Dengan batas tertentu,  gue tertarik dengan minimalism. Itu artinya gue ga akan hidup hanya dengan sekian barang. Selain malah tidak praktis,  juga tidak ekonomis. Haha. Gue tertarik dengan konsep hidup hanya dengan barang-barang yang bisa memberi kebahagiaan. Kalo ada yang belum tahu,  ada buku judulnya “The Life-Changing Magic of Tidying Up” yang ditulis oleh Marie Kondo. Versi impor-nya 200 ribuan di Periplus,  versi terjemahan 50 ribuan di Gramed. Gue baru beli weekend kemarin karena ngeliat review-nya yang bagus dan menarik bagi gue.  Di buku ini, Marie Kondo ngejelasin cara untuk menata rumah supaya kita dapat tinggal di rumah yang memberi kebahagiaan. 

Saat ini,  visi gue soal rumah adalah tempat yang super comfy dan bersih yang banyak tanamannya ala tropis minimalis jadi gue bisa baca buku, ngopi dan berkarya. Kondisi rumah yang bisa diimprove adalah masih banyak barang yang tercecer karena kurangnya laci/kontainer.  Haha.  Jadi gue pikir,  dengan gue belajar dari Marie Kondo,  rumah gue bisa jadi lebih rapi,  ringkas dan nyaman. 

Semua post gue adalah undangan untuk diskusi ya. Kalian bisa komentar di kolom komen mengenai apa saja; kecintaan lo ke rumah lo,  hal-hal sekitar rumah yang bisa lo improve,  dan lain-lain. Coba sharing ya,  karena menulis hal yang membuat bahagia itu membahagiakan.  Haha. 

Peace out! 

Advertisements

2 thoughts on “Cat Putih Aja Semuanya,  Pak! 

  1. Aku baru banget kemaren baca-baca marie kondo di internet dan ngaplikasiin metode rapi2nya!
    Haha aku juga sih baru mulai2 ngeberesin ulang kamar. Siapa tau dgn metode lipat-lipat dan seleksi barang-barang ala konmari, kamar jadi lebih spacey.
    Menurutku, ruangan tiny atopun luas, kalo terang, bikin mood naik terus^^

    Kalo aku punya rumah sendiri nanti aku rasa aku bakal kemaruk pengen segala macem peralatan masak ato bersih-bersih. Di sisi lain, aku baru denger tentang gaya hidup minimalis misalnya tentang ga perlu punya banyak pakaian di lemari. Plus mungkin ga perlu punya lemari tapi bikin ruang kecil berpintu yang bisa jadi tempat nyimpen baju yang bakal lebih tahan lama, ekonomis dengan ukuran yang bisa kita tentukan srndiri, ketimbang beli lemari dgn kemungkinan lemari lapuk.
    Senang sekali baca postingan2 disini: mulai tentang buku, ngebiasain olahraga, sampe mikirin rumah!
    Kurasa mulai memikirkan masa depan itu menyenangkan^^

    Liked by 1 person

    1. Whoa! Thanks for the positivity! Konmari banyak disebut di artikel-artikel minimalism dan gue baru ngeh kalo terjemahannya udah masuk ke indonesia 😀 still trying to finish the book tho.
      Instead of lemari, I’m using open closet. Soalnya kalo pake lemari, keliatan bulky dan makan tempat haha. Efeknya harus sering seleksi baju yang masih dipakai dan didonasikan.
      Anyway, terima kasih sudah mampir!

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s