Practicing Photography: Exploring Taman Mini

Saya suka museum dan galeri. Awalnya, weekend ini saya berencana untuk ke Galeri Nasional hanya karena belum pernah dan ingin belajar foto. Ketika saya pikir lagi, ada lebih banyak hal menarik di Taman Mini. Lagian, saya sudah lama gak ke Taman Mini. Overall, Taman Mini maju pesat dibanding 3-4 tahun yang lalu. Terakhir kali saya kesana, banyak anjungan yang tidak terawat dan berdebu. Beberapa anjungan bahkan menyediakan kotak sumbangan untuk perawatan. Sekarang, Taman Mini lebih baik. Banyak anjungan yang sudah direnovasi dan dirawat dengan baik, meskipun belum merata. Saking banyaknya points of interest di Taman Mini, jalan kaki ga berasa (baru berasa sekarang 😑). Hal favorit saya di Taman Mini adalah melihat anak-anak berlatih tari Bali di anjungan Bali. Suatu hari, saya pernah stucked di sana karena hujan. But it was one of the best moments!. Kalau ada waktu, saya juga mau ke Taman Mini jika ada anjungan yang mengadakan event unik. Misalnya: akhir tahun lalu, ada anjungan yang mengadakan pentas kesenian. Saya penasaran orang-orang seperti apa yang akan saya temui jika datang ke event seperti itu. Haha.
Mengenai fotografi, saya tertarik dengan uraian Porter Yates setelah saya ikut free course-nya di Skillshare. Foto-fotonya intim dan intriguing. Porter Yates mengambil gambar dari jarak dekat dengan banyak layers yang sekilas mengaburkan objek foto. Porter ingin orang yang melihat fotonya bertanya, kemudian melihat berulang kali foto itu. Menurut Porter, hal itu yang membuat foto memorable. Sebagai hobbyist yang nihil alat dan zkills, ide ini menarik karena tidak perlu kamera yang punya depth-of-field sempit dan memaksa saya untuk berpikir dua-tiga kali dalam mengambil gambar. Poin-poin yang saya perhatikan saat hunting fotomon di Taman Mini adalah:

  • Etnik/keunikan tidak cukup, harus ada hal yang bisa diceritakan dari foto itu
  • Non-descriptive. Artinya, saya harus menggunakan banyak layers untuk mengaburkan kejadian yang terjadi. Foto itu harus menimbulkan pertanyaan terlebih dahulu
  • Usaha untuk lebih dekat dan berinteraksi dengan objek foto. Saya juga menghindari untuk foto dari belakang objek
  • Ambil foto yang susah diambil orang lain artinya jangan males untuk dig deeper

Setelah seharian muter-muter TMII, ada beberapa lesson learned. Untuk mendapatkan foto ala Porter Yates, objek harus sedang melakukan kegiatan. Saya sempat ke Museum Nasional (baru pertama kali ke dalamnya, keren sih!)  tapi Museum Nasional sepi. Saya malah dapat gambar menarik dari orang-orang yang menyiapkan venue wedding di halamannya 😂. Lalu, saya pakai trik nongkrong di tengah jalan dengan kamera dalam keadaan standby. Awalnya orang-orang segan masuk frame, tapi lama-lama ya harus ikhlas masuk frame jika mau lewat 😂😂😂. Memperlihatkan kamera juga membantu membuat objek lebih santai, nimbrung 5-10 menit, pura-pura ambil gambar background padahal nge-zoom ke muka 😂😂😂 (tapi ini gagal sih 😂). Mendapatkan layers yang padat ala Porter ternyata susah, fotografernya harus benar-benar dekat dengan objek, yang seringkali sekelompok orang. 

Banyak foto menarik yang saya dapatkan dan akan saya upload bertahap di EyeEm saya. Biarlah foto ini yang membuktikan sukses tidaknya hunting kemarin 😂😂:

Kalau yang ini, foto yang saya ambil di atas flyover Stasiun Jurangmangu karena sunset-nya sedang bagus.

Saya sudah pasang link untuk ke tutorial Porter Yates di SkillShare dan galeri-nya di Instagram. Semoga ilmunya dapat memberi inspirasi dan berguna 🙂 

Advertisements

One thought on “Practicing Photography: Exploring Taman Mini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s